Daerah  

Akankah IPNU & IPPNU Komisariat Universitas Islam Zainul Hasan Genggong menjadi mercusuar moderasi beragama?

Akankah IPNU & IPPNU Komisariat Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Menjadi Mercusuar Moderasi Beragama?
Pengurus IPNU dan IPPNU Komisariat Universitas Islam Zainul Hasan Genggong. (Foto: SRI)

Oleh:  Jhon Qudsi

Rektor Universitas Kehidupan

Sebetulnya saya iseng hadir di pelantikan IPNU & IPPNU Komisariat Universitas Islam Zainul Hasan Genggong dalam kegiatan seremonial pelantikan pengurus baru masa khidmat 2023 – 2024 dengan tema: menuju kader militan intelektual dan berbudi dalam menegakkan khitah Nilai-nilai Aswaja, menurut ku tema ini cukup relevan sebagai respon maraknya isu intoleransi keagamaan yang akhir-akhir ini yang kerapkali terjadi maka perlunya modernisasi beragama

Sebelum melangkah lebih jauh saya akan menjelaskan moderasi beragama, moderasi beragama adalah jalan tengah, tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan

Menurut Gus Ulil Abshar Abdalla, sumbangsih gagasan moderasi beragama dari Nahdlatul Ulama bisa diringkas dalam tiga gagasan penting: (1) penerimaan Pancasila dan negara nasional Indonesia (NKRI) sebagai bentuk kenegaraan final yang absah dan tidak bertentangan dengan akidah Islam; (2) tiadanya pertentangan antara komitmen keagamaan dan komitmen nasional; dan (3) pribumisasi Islam seperti digagas dulu oleh Gus Dur

Tujuannya moderasi beragama sebagi upaya meminimalisir terjadinya konflik antar agama, dan menjadi harapan dalam upaya-upaya memperbaiki dan menjaga kerukunan umat beragama. Dengan prinsip adil, berimbang, menghormati nilai kemanusiaan, menghormati kesepakatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta taat terhadap hukum dalam menjaga ketertiban umum

Sependek pengetahuan ku, munculnya perilaku intoleransi lantaran adanya pemahaman tentang agama yang cukup minim sedangkan semangat keberagamannya menggebu-gebu dan cendrung memaksakan kehendaknya atas penafsiran teks keagamaan dan sulit menerima pendapat berbeda sehingga melahirkan reaksi intoleransi dan gerakan radikalisme

Aksi radikalisme atas nama agama sangat menggangu kerukunan antar ummat, menurut ku; “tak ada satu pun ajaran agama yang memperbolehkan membunuh atau melukai terhadap pemeluk agama yang berbeda secara keyakinan,” karena hal ini dapat memecah belah persatuan bangsa, apalagi di negara Indonesia yang majemuk sudah sejak awal berdirinya telah mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai simbol persatuan yang memberikan kebebasan untuk memeluk agama berdasarkan keyakinannya

Refleksi moderasi beragama sangatlah penting untuk di gabungkan ulang di tengah-tengah masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa agar dapat saling memahami dan menyadari perbedaan sebagai fitrah di negara yang demokrasi tanpa menghujat dan menganggap yang berbeda keyakinan menjadi musuh yang harus di musnahkan

Betapa mirisnya kalau kita melihat di berbagai media, aksi pengeboman, perusakan rumah ibadah dan pelarangan ritual keagamaan, peristiwa hal semacam ini adalah bentuk fanatisme yang berlebihan sehingga memunculkan sikap intoleransi mempunyai motif sentimen dan kebencian, hanya berdasarkan berbeda keyakinan menganggap kelompoknya paling benar menuduh yang berlainan faham adalah kafir, seakan-akan berhak menentukan surga dan neraka

Besar harapan saya terhadap kepengurusan yang baru IPPNU & IPPNU semoga aktif menjadi corong garda terdepan dari moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk edukasi agar dapat mencegah segala bentuk tindakan terorisme, radikalisme atau kekerasan atas nama agama sehingga terciptanya hubungan harmonis yang pluralisme

Dan perlu di ketahui saya hanyalah tamu yang tak di undang yang datang sekedar ingin menyaksikan acara pelantikan pengurus baru IPNU & IPPNU dengan gaya sok akrab menjabat tangan dari para hadirin seolah-olah tamu penting yang di tunggu-tunggu, barangkali mereka mengira-ngira jangan-jangan saya mantan anggota, eh ternyata bukan

Saya mengakui responnya dari anggota IPNU & IPPNU rekan – Renita begitu antusias, saya cuma bermodalkan bawa buku sekaligus pinjam spidol, pura-pura mencatat kegiatan tersebut seperti wartawan, padahal yang saya catat hanya coretan yang sebetulnya saya juga tidak tau apa itu isinya supaya keliatan serius aja, ya lumayan sekalian dapat hidangan dan pencerahan gratis ( bikin serasa jadi gila wkwkwk ampun deh )

Tinggalkan Balasan