SUARARAKYATINDO.COM – Jakarta, Di berbagai sudut kota, bendera bajak laut khas serial anime One Piece mulai bermunculan. Di gang sempit, di tiang bambu dekat persawahan, bahkan tergambar di mural jalanan.
Sebagian orang mengernyitkan dahi, sebagian lagi hanya tersenyum geli. Tapi bagi sebagian anak muda, itu adalah simbol perlawanan bukan terhadap negara, tapi terhadap rasa kecewa.
Fenomena ini mengundang perhatian Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer. Ia tak serta-merta mengecam atau menyalahkan. Justru sebaliknya, ia mengajak publik untuk memahami.
“Ini adalah ekspresi budaya. Kita sedang menyaksikan generasi muda mengekspresikan keresahan mereka lewat simbol yang dekat dengan mereka,” ujar Immanuel, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, bendera Jolly Roger dalam konteks ini bukanlah tanda pemberontakan terhadap Merah Putih. Ia melihatnya sebagai bentuk metaforis: semangat kebebasan, solidaritas, dan harapan akan keadilan.
“Anak muda bukan membenci Indonesia. Justru karena cinta itulah mereka menyuarakan rasa kecewa. Mereka hanya ingin didengar,” tambahnya.
Serial One Piece bukan sekadar tontonan. Bagi banyak pemuda, kisah tentang Luffy dan kru bajak lautnya adalah cerminan nilai-nilai universal yang mulai terasa langka di dunia nyata: persahabatan, kejujuran, dan keberanian melawan penindasan. Tak heran jika simbol mereka diadopsi sebagai bahasa emosional yang sulit diungkapkan lewat kata.
Immanuel menilai, alih-alih memarahi, negara harus bertanya: mengapa anak-anak muda mencari keadilan dalam cerita fiksi? Mengapa mereka merasa simbol negara belum cukup merepresentasikan harapan mereka?
“Jika nilai persahabatan dan keadilan justru mereka temukan dalam anime, maka negara perlu introspeksi,” ucapnya.
Dalam pandangan Immanuel, tugas negara bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga mendengarkan suara-suara sunyi. Ia meyakini bahwa simbol One Piece bukan bentuk permusuhan, tetapi panggilan agar negara kembali hadir sebagai pelindung, bukan penguasa.
“Ini bukan pemberontakan. Ini tanda bahwa ruang dialog sedang menyempit. Dan tugas kita adalah membukanya kembali,” tegas aktivis prodemokrasi itu.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa di balik sehelai kain bergambar tengkorak dan tulang bersilang, mungkin terselip jeritan yang tidak terdengar: tentang pekerjaan yang sulit didapat, harga pangan yang melambung, atau keadilan yang terasa makin jauh. Mungkin, itu hanya cara mereka berkata: Kami cinta negeri ini, tapi kami lelah.






