SUARARAKYATINDO.COM, PROBOLINGGO — Harapan warga menikmati wajah baru Alun-Alun Kota Probolinggo justru berubah menjadi kekecewaan. Ruang terbuka hijau yang baru diresmikan dan menelan anggaran sekitar Rp4 miliar itu langsung menuai kritik setelah tergenang air setiap kali hujan turun.
Pada Minggu (11/1/2026), hujan yang mengguyur kota membuat sejumlah titik di kawasan alun-alun terendam air hingga setinggi lutut orang dewasa. Kondisi ini sontak viral setelah warga mengunggah foto dan video genangan ke media sosial.
Berdasarkan pantauan di lapangan, genangan paling parah terjadi di sisi utara alun-alun, tepat di depan Stasiun Kereta Api Probolinggo, serta di sisi timur yang berbatasan langsung dengan Perpustakaan Kota. Air yang menggenang membuat aktivitas pejalan kaki terganggu, jalur pedestrian tak bisa difungsikan, dan arus lalu lintas di sekitar kawasan melambat.
“Kalau hujan, utara alun-alun selalu banjir, depan stasiun. Timur alun-alun lebih parah, depan perpustakaan,” tulis seorang warga dalam unggahan yang kini ramai dibagikan.
Fenomena ini memantik kritik publik. Proyek revitalisasi yang digadang-gadang meningkatkan kualitas ruang publik justru memperlihatkan persoalan klasik perkotaan yang belum teratasi, yakni buruknya sistem drainase.
Ferdi (38), salah seorang pengunjung, menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, alun-alun baru seharusnya mampu menjawab persoalan mendasar tata kota.
“Ini baru, tapi hujan sedikit saja sudah seperti kolam. Bukan kawasan lama yang infrastrukturnya sudah tua,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota Probolinggo belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab genangan maupun langkah konkret yang akan ditempuh. Absennya respons pemerintah justru memperkuat spekulasi dan memperdalam kekecewaan masyarakat.
Pengamat tata kota, Feri Syafrudin, menilai banjir di kawasan alun-alun bukan sekadar dampak hujan musiman. Ia melihat adanya indikasi masalah serius pada tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek.
“Kapasitas drainase yang tidak memadai, kesalahan perhitungan kontur tanah, hingga hilangnya daerah resapan tanpa solusi pengganti yang efektif, semuanya berkontribusi pada genangan ini,” jelasnya.
Menurut Feri, alun-alun semestinya menjadi etalase wajah kota. “Ruang publik utama harus mencerminkan kualitas perencanaan dan profesionalisme pembangunan, bukan malah menunjukkan kelemahan teknis,” tegasnya.
Ia pun mendesak Pemkot Probolinggo segera mengambil langkah nyata. Audit teknis secara terbuka dan perbaikan menyeluruh sistem drainase dinilai mendesak agar persoalan serupa tidak terus berulang.
“Jika dibiarkan, alun-alun yang seharusnya menjadi kebanggaan justru akan dikenang sebagai simbol pemborosan anggaran dan kegagalan tata kelola perkotaan,” pungkasnya.






