Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Kolom

Demokrasi dan Konflik: Bagaimana sistem demokrasi mampu mengelola konflik?

×

Demokrasi dan Konflik: Bagaimana sistem demokrasi mampu mengelola konflik?

Sebarkan artikel ini
Demokrasi dan Konflik: Bagaimana sistem demokrasi mampu mengelola konflik?
Riski Nurul Hasanah Manurung selaku Mahasiswi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: SRI)

Oleh: Riski Nurul Hasanah Manurung

Mahasiswi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang

Advertisement
Scroll kebawah untuk membaca

Konflik dengan berbagai bentuk dan sifatnya merupakan suatu keadaan alamiah yang selalu timbul dalam kehidupan masyarakat. Karena konflik adalah fenomena atau peristiwa yang mengakar, maka mengelola konflik bukanlah suatu hal mudah yang dapat dipikul masyarakat baik masyarakat secara individu maupun kolektif.

Baca Juga:  Kaesang, PSI dan MFP

Membicarakan masalah konflik, kita tidak dapat memisahkannya dari nilai-nilai demokrasi di dalamnya. Di bawah sistem demokrasi, suatu konflik atau perselisihan yang timbul akan direspon dan diekspresikan secara terbuka. Atau dalam arti lain, konflik yang terjadi dalam sistem demokrasi akan ditangani tanpa kekerasan. Kemampuan menyelesaikan konflik tanpa adanya tekanan ini yang kemudian membedakan pemerintahan demokratis dengan mayoritas bentuk pemerintahan lainnya.

Namun demikian, bukan berarti sistem demokratis adalah sistem yang sempurna. Karenanya untuk mengubah konflik menjadi bentuk perdamaian, diperlukan adanya dialog dan negosiasi yang digunakan untuk menjembatani hubungan pihak-pihak yang bertentangan tersebut. Oleh karena itu, sistem demokrasi ini menjadi penting dalam pengelolaan konflik, sebab resolusi konflik melalui cara damai berfokus pada dialog dan negosiasi yang tidak melibatkan kekuatan militer. Sehingga aksi merusak dan kekerasan fisik dapat diminimalisir.

Example 120x600