Penulis: Inisial G
Ajang Pemilihan Duta Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Probolinggo kembali digelar tahun ini dengan kemasan meriah. Seremoni penuh semangat, lantunan jargon motivasional, hingga parade busana terbaik remaja mewarnai panggung acara. Namun, di tengah gegap gempita itu, muncul pertanyaan yang tak kalah nyaring: Apa dampak nyatanya bagi remaja Probolinggo?
Setiap tahun, acara ini digelar dengan kemasan nyaris serupa. Tapi publik mulai bertanya kemana para Duta GenRe setelah mereka dipilih? Apa peran mereka setelah panggung dimatikan, setelah selempang disimpan dan dokumen acara sekadar jadi arsip media sosial?
Dalam iklim fiskal yang menuntut efisiensi, wajar jika masyarakat mempertanyakan urgensi acara semacam ini. Bukan rahasia lagi bahwa pasca-ajang, banyak Duta GenRe seolah “menghilang”. Tak terdengar kiprah mereka di lapangan. Tidak ada program lanjutan, tak terlihat keterlibatan aktif dalam pendampingan remaja.
Kegiatan ini pun mulai dinilai hanya menguntungkan segelintir pihak: penyelenggara, tim dokumentasi, dan peserta yang mengejar eksistensi. Sementara remaja di akar rumput, yang mestinya menjadi penerima manfaat utama, tak merasakan perubahan nyata.
Tantangan remaja Kabupaten Probolinggo kian kompleks: pernikahan anak, putus sekolah, krisis identitas, penyalahgunaan gawai, hingga persoalan kesehatan reproduksi. Di tengah situasi itu, apa cukup hanya menghadirkan figur duta yang tampil seremonial, lalu menghilang tanpa jejak?
“Remaja tidak butuh ikon satu malam,” ujar seorang aktivis pendidikan setempat. “Mereka butuh representasi nyata teman sebaya yang aktif, konsisten, dan peduli.”
Sudah berapa banyak Duta GenRe yang terpilih sejak program ini berjalan? Apa saja capaian mereka setelah pemilihan? Apakah mereka menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing? Apakah mereka melakukan kampanye edukatif, pendampingan, atau advokasi?
Hingga kini, belum banyak data transparan yang menunjukkan kontribusi konkret para duta terpilih. Minimnya monitoring dan evaluasi dari pihak terkait baik BKKBN maupun OPD pendukung menjadi sorotan. Jangan sampai ajang ini hanya berakhir pada laporan administrasi dan posting Instagram.
Jika Pemkab Probolinggo benar-benar ingin membangun generasi muda yang berdaya, maka ajang seperti ini harus dikawal hingga ke output dan outcome-nya. Bukan sekadar seremoni tahunan, tapi aksi nyata yang bisa diukur dalam bentuk perubahan perilaku, literasi remaja, dan penguatan komunitas.
Jika tidak, publik berhak menilai bahwa Pemilihan Duta GenRe hanyalah “festival gaya-gayaan” yang menyerap anggaran tanpa efek jangka panjang.
Ajang Duta GenRe bisa tetap relevan jika dipadukan dengan program pendampingan berkelanjutan, pelibatan aktif di komunitas, dan pelaporan terbuka terhadap progres masing-masing duta. Transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan harus menjadi roh dari program ini.
Tanpa itu semua, selempang hanya akan jadi pajangan, seremoni hanya akan jadi rutinitas, dan Duta GenRe hanya akan jadi nama dalam daftar pemenang, bukan agen perubahan sesungguhnya.













