Kolom  

Faisol Riza: Dari Aktivis Menuju Senayan

Faisol Riza: Dari Aktivisme Menuju Senayan
Sosok Karismatik pemimpin yang patut menjadi panutan. (Foto: SRI)

Oleh: Atiqurrahman

Pemilu 2024 kemarin adalah sebuah momentum politik yang menguntungkan bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebab PKB telah mendapatkan efek ekor jas dari pencalonan Cak Imin sebagai wakil presiden mendampingi Anies Baswedan.

Dan kenaikan suara PKB pada pemilihan legislatif juga tidak terlepas dari upaya kerja keras yang dilakukan oleh para kader (caleg) PKB, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat pusat (nasional). Mereka satu barisan dan satu komando dalam memenangkan PKB.

Salah satunya adalah Mas Faisol Riza, seorang kader PKB yang memperoleh suara terbanyak secara nasional, yakni diatas 200 ribuan suara, dan berada diurutan ketujuh belas.

Mas Riza adalah seorang politisi kawakan dan mantan aktivis 1998. Karir politik Mas Riza bisa dikatakan dari aktivis menuju parlemen, atau dari santri menuju senayan.

Sebuah Selayang Pandang.

Faisol Riza lahir di Probolinggo, 1 Januari 1973, dari pasangan keluarga H. Ma’ruf Hasyim dan HJ. Ma’rufah. Pendidikan dasarnya ia tamatkan di Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif, milik Nahdhatul Ulama.

Selepas itu, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton. Di masa pesantren ini keilmuan dan mentalitas Mas Riza ditempa. Dan ia tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu pengetahuan umum.

Ketika lulus dari pesantren, Mas Riza lanjut kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara (STFD) Jakarta. Pada masa mahasiswa inilah intelektual dan karakter perlawanannya terbentuk. Ia merasa gelisah setiap terjadi penindasan dalam masyarakat yang dilakukan oleh rezim orde baru.

Karenanya, Mas Riza memutuskan untuk terjun dalam dunia aktivisme. Sebuah dunia yang penuh dengan pergolakan pemikiran sekaligus membutuhkan sikap keberanian. Ia pernah menjadi ketua organisasi mahasiswa yang berhaluan kiri-progresif yakni Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) pada tahun 1997-1999.

Dalam catatan sejarahnya, Mas Riza sudah melawan dan menentang rezim tiran Soeharto dengan cara sehormat-hormatnya. Dan pada akhirnya peristiwa (tragedi) penculikan menimpa dirinya, 1998.

Mungkin, Ia salah satu aktivis yang cukup beruntung karena dibebaskan oleh militer (Tim Mawar), sedangkan beberapa kawannya kini tidak diketahui keberadaan dan nasibnya–apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Setidaknya, itulah pengalaman hidup terpahit dan terburuk dialami Mas Riza. Sehingga, ia meneteskan air mata ketika tampil dalam acara Mata Najwa. Melihat Prabowo Subianto sebagai calon presiden bersikap apatis terhadap upaya penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya kasus penculikan aktivis 1998.

Meski demikian, ia tidak mau disambut bak pahlawan, serta tak perlu ada eforia berlebihan dalam memandang dirinya. Sebab, menurutnya, “Tak ada yang istimewa bagi dirinya, karena proses sejarah akan melahirkan sesuatu yang sama,” Inilah letak kerendahan hati seorang Faisol Riza.

“Kebanggaan seorang aktivis hanya boleh dikenang dan diceritakan kepada anak-anaknya, tetapi tidak untuk masyarakat luas. Namun, peristiwa 1998 itu, juga perlu diingat oleh generasi mendatang sebagai sebuah pembelajaran,” tuturnya.

Kiprah Politiknya

Kini, Mas Riza berada di ruang kekuasaan legislatif. Ia menjadi penyambung lidah dari  ratusan ribu orang (konstituen) yang sudah memilihnya. Ia menggunakan tagline “Wakil Rakyat Bantu Rakyat” untuk menggambarkan  orientasi politiknya ke depan.

Sebelumnya, kita tahu, Mas Riza hingga hari ini masih menjadi Legislatif komisi VI yang membidangi BUMN, perdagangan, koperasi UMKM, investasi dan standarisasi nasional. Sebagai Ketua Komisi, tentu saja ia memiliki hak dan tanggungjawab untuk mengawasi jalannya kementerian-kementerian terkait.

Dan, saya melihat, kiprah atau orientasi politik Mas Riza bisa dilihat dari dua hal; yakni politik karitatif (kepedulian) dan politik kebijakan (kenegaraan).

Politik karitatif ini adalah upaya dan komitmen Mas Riza dalam memberikan atau menyalurkan sebuah program sebagai salah satu bentuk pelayanan kemanusian atas kebutuhan masyarakat terutama para konstituennya.

Sudah ada beberapa program kemanusian yang pernah dilakukan oleh Mas Riza: 1), menyalurkan seribu vaksin gratis kepada masyarakat ketika masa pademik berlangsung, 2) memberikan bantuan sembako dan beasiswa pendidikan kepada warga miskin. 3) memberikan sapi qurban kepada masjid-masjid ketika menjelang Idul Adha, 4) memperbaiki infrastruktur jalan dan pendidikan yang rusak, dan 5) memberangkatkan umroh bagi keluarga miskin.

Tidak hanya itu, Mas Riza seringkali turun dan hadir ditengah-tengah masyarakat untuk mendengarkan aspirasinya, keinginannya, dan keluh-kesahnya.

Salah satunya ialah ikut serta dalam memeriahkan tradisi “Petik Laut” di desa Kalibuntu, Kabupaten Probolinggo. Kemudian, ia berbicara dengan para nelayan terkait persoalan hidup yang sedang dihadapinya.

Tindakan politik karitatif Mas Riza ini bukanlah urusan elektoral semata, melainkan rasa tanggungjawab sebagai anggota dewan terhadap konstituennya. Ia ingin memastikan bahwa kebutuhan hidup konstituennya sedikit-banyak harus terpenuhi dan terlayani.

Sedangkan, politik kebijakan atau kenegaraan adalah upaya Mas Riza untuk menjaga dan merawat negara ini agar tetap berjalan sesuai koridor konstitusi. Jangan sampai agenda-agenda reformasi yang ia perjuangkan bersama kawannya dulu pudar dan sirna begitu saja.

Sebagai mantan aktivis, ia memiliki rasa tanggungjawab dan beban moral untuk menuntut negara segera menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Agar ingatan dan catatan sejarah bangsa ini tidak begitu menyeramkan dan menakutkan bagi generasi mendatang.

Selain itu, Mas Riza mampu menyelamatkan PT. Garuda, salah satu maskapai penerbangan plat merat yang berada diambang kebangkrutan dan kehancuran. Bahkan pemerintah sendiri ingin menutupnya karena hutang dan kerugiannya begitu besar.

Karena itu, ia, sebagai Ketua Komisi VI memberikan rekomendasi kepada pemerintah khusunya Menteri Keuangan agar memberikan dana talangan terhadap PT. Garuda sebesar 8 trilyun. Meskipun yang dikucurkan hanya 1 trilyun, tetapi PT. Garuda bisa bertahan dan berhasil bangkit secara perlahan.

Belajar dari Mas Riza.

Bagi saya, Faisol Riza bukan hanya sekadar figur politisi, tetapi seorang pemikir dan aktivis demokrasi yang layak kita baca dan pelajari. Setidaknya melalui rekam jejak perjuangan dan karya-karyanya.

Sebagai politisi, Mas Riza mampu berdiri diatas kepentingan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Ia bukan tipikal politisi kacang lupa kulitnya, tetapi politisi yang mengabdikan dirinya sebagai pelayan bagi masyarakat.

Jadi, tagline “Wakil Rakyat Bantu Rakyat” bukan hanya slogan politik belaka, melainkan peta jalan politik yang ingin Mas Riza tempuh dalam mengarungi balantara kekuasaan.

Karena itu, saya belajar dari seorang diri Faisol Riza, bahwa menjadi insan politik harus mempunyai prinsip dan mampu meletakkan sejuta harapan masyarakat diatas segala-galanya.

Tinggalkan Balasan