SUARARAKYATINDO.COM – Jakarta, Prospek harga emas kian mengkilap. Goldman Sachs dalam laporan riset terbarunya memperkirakan harga logam mulia itu bisa melejit jauh melampaui level baseline US$ 4.000 per troy ounce atau sekitar Rp 65,6 juta (kurs Rp 16.400) pada pertengahan 2026.
Harga emas spot dunia sendiri sudah menorehkan rekor baru US$ 3.578,50 per ounce atau setara Rp 58,67 juta pada Rabu (3/9/2025). Lonjakan ini dipicu ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga di akhir bulan ini.
Di dalam negeri, emas batangan Antam 24 karat pada Kamis (4/9) juga tak kalah panas, menembus level Rp 2.044.000 per gram, mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Goldman Sachs memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 3.700 per ounce di akhir 2025 dan US$ 4.000 per ounce di pertengahan 2026, terutama jika tren pembelian oleh bank sentral berlanjut.
Namun, analis memperingatkan ada potensi skenario lebih ekstrem. Jika investor swasta global mengurangi eksposur pada dolar AS dan beralih ke emas, harga logam mulia bisa terdorong ke US$ 4.500 per ounce.
Bahkan, perhitungan mereka menunjukkan harga berpeluang mendekati US$ 5.000 apabila hanya 1% dari total dana swasta di pasar obligasi AS dialihkan ke emas.
Goldman Sachs juga menyoroti upaya Presiden AS Donald Trump yang semakin agresif mengendalikan The Fed. Hilangnya independensi bank sentral dapat memicu inflasi tinggi, naiknya yield obligasi jangka panjang, pelemahan saham, serta penurunan status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
Dalam kondisi itu, emas akan tetap menjadi aset penyimpan nilai paling aman karena tidak bergantung pada kepercayaan institusi mana pun.
“Emas tetap menjadi rekomendasi investasi jangka panjang paling kuat dari kami,” tulis Goldman Sachs dalam catatannya yang dikutip Jumat (5/9/2025).
Dengan tren global yang makin tidak pasti, prospek emas dipandang masih cerah. Para analis menyarankan investor untuk menjadikan logam mulia sebagai portofolio utama dalam menghadapi volatilitas ekonomi dan politik dunia.









