Daerah  

Harlah IKAMI SULSEL Ke 61, Saatnya Taubat Nasuha Berjamaah

Harlah IKAMI SULSEL Ke 61, Saatnya Taubat Nasuha Berjamaah
Foto bersama saat acara selesai. (Foto; SRI)

SUARARAKYATINDO.COM- 30 September 1961 ditetapkan sebagai berdirinya IKAMI SULSEL diawali dengan penyatuan dan kebulatan tekad 8 wadah otonom pelajar/mahasiswa sulawesi selatan yang tersebar di pulau jawa.

61 tahun sudah IKAMI SULSEL menghiasi perjalanan pembangunan bangsa indonesia dengan melahirkan begitu banyak alumni. Mereka tersebar diberbagai ruang aktualisasi dan pengabdian. Hal ini menunjukkan IKAMI SULSEL hadir menjadi salah satu paguyuban yang siap melakukan gebrakan.

Diusianya yang telah lebih enam dasawarsa, IKAMI SULSEL sudah sepatutnya terus berbenah agar dapat berkembang menjadi sebuah ikatan yang terorganisir dengan sistem manajamen profesional. Peringatan harlah sepatutnya dijadikan momen refleksi bersama daripada disibukkan dengan pelbagai kegiatan seremonial belaka.

IKAMI SULSEL sebagai organisasi berbasis kedaerahan hendaknya melakukan perumusan-perumusan strategis dalam mengemban kewajiban dan cita-cita masyarakat untuk memajukan Sulawesi Selatan dan Indonesia. IKAMI SULSEL sudah sepatutnya berada di garda terdepan mengubah tatanan masyarakat agar jauh lebih baik.

Ilmu yang telah diperoleh di perantauan senantiasa harus membumi menyentuh dimensi kemasyarakatan guna merumuskan nilai-nilai instrumental dalam menghadapi tantangan zaman yang berimbas pada kehidupan masyarakat. Selain itu, sebagai agen perubahan IKAMI SULSEL harus mengambil peran sebagai pelopor dalam menentukan arah masa depan daerah dan bangsa sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Taubat Nasuha Berjamaah

Begitu tegas dalam AD/ART bahwa salah satu tujuan IKAMI SULSEL didirikan sebagai wadah mempererat kekeluargaan khususnya bagi mahasiswa di perantauan. Namun pada kenyataannya IKAMI SULSEL dihadapkan pada dinamika berkepanjangan yang melahirkan dualisme kepemimpin.

Tidak dapat disangkal jika banyak yang menilai bahwa dualisme kepemimpinan tersebut merupakan bentuk kegagalan kolektif mempererat kekeluargaan dan merawat nilai-nilai kebudayaan. “Rebba Sipatokkong, Mali Siparappe, Malilu Sipakainge” sebagai pesan persatuan telah mulai dilupakan.

Sungguh begitu miris jika memandang dualisme sebagai sebuah dinamika biasa sehingga mengamini langgengnya perpecahan. Persoalan dualisme kepemimpinan tentunya akan menyulitkan IKAMI SULSEL untuk menunjukkan dedikasinya kepada publik, sebab hanya akan menjebak IKAMI SULSEL pada cara berfikir dan bertindak untuk menyelesaikan internalnya ketimbang masalah kedaerahan dan kebangsaan.

Sebagai organisasi yang bersifat independen, kekeluargaan, profesionalitas, dam mengedepankan nilai-nilai kebudayaan tentunya sangat disayangkan jika konflik tersebut sampai saat ini masih dipertahankan.

Harapan besar bagi seluruh stakeholder yang berhimpun dalam IKAMI SULSEL agar massif menggelorakan rekonsiliasi secara menyeluruh di setiap tingkatan. Sehingga IKAMI tidak menjadi kerdil hanya karena menjadi arena pertarungan kepentingan praktis, bukan menjadi arena pertarungan gagasan sesuai yang dicita-citakan.

Saatnya mereformasi sistem, merevitalisasi peran, mengintrospeksi diri dan melakukan taubat nasuha berjamaah. IKAMI harus melompat lebih jauh merumuskan agenda strategis sebagai lokomotif perubahan menjawab segala persoalan bangsa dan daerah. Selamat ber-Harlah-ria IKAMI SULSEL !

Tinggalkan Balasan