Investasi, Kemiskinan, dan Ketimpangan

Investasi, Kemiskinan, dan Ketimpangan
Investasi yang sangat memungkinkan pada era sekarang. (Foto: SRI)

SUARARAKYATINDO.COM- Tahun 2023 menjadi periode yang istimewa bagi dunia investasi Indonesia. Dengan total realisasi investasi mencapai Rp.1.418,9 triliun. Indonesia berhasil meraih kepercayaan investor yang tidak tergoyahkan di tengah ketidakpastian yang dipicu kondisi politik.

Tercatat realisasi investasi Indonesia mengalami kenaikan eksponensial sebesar 75,26% terhitung dari nilai awal pada tahun 2019 senilai Rp809,6 triliun.

Realisasi investasi tidak hanya tentang angka belaka, namun kita juga harus menilik jauh lebih dalam lagi. Persoalan laten yang kerap muncul setiap detik yakni kemiskinan yang masih membengkak dan ketimpangan masih mendaki.

Angka kemiskinan pada maret tahun 2023, 29,9 juta orang atau sebesar 9,36% dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini turun 0,46 juta orang terhadap September 2022 (0,18%) dan turun 0,26 juta orang terhadap maret 2022 (0,21%).

Tingkat kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2022–Maret 2023, jumlah penduduk miskin perkotaan turun sebesar 0,24 juta orang, sedangkan di pedesaan turun sebesar 0,22 juta orang.

Sedangkan jika dilihat dari persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 7,53 persen menjadi 7,29 persen. Sementara itu, di pedesaan turun dari 12,36 persen menjadi 12,22 persen.

Jadi, data diatas menunjukan performa yang laik disyukuri sebagai pantulan kerja keras, komitmen, dan konsistensi pemerintah. Sungguh pun begitu, obor ini masih redup, belum terang benderang karena tensi ketimpangan masih relatif tinggi.

Di tahun yang sama, angka ketimpangan mengalami peningkatan yakni 0,381 di September 2022 naik menjadi 0,388 pada maret 2023. Artinya, Ketimpangan yang melebar menjadi indikasi pemerataan ekonomi yang belum merata.

Warta diatas menunjukan kapasitas instrument ekonomi seperti kehilangan napas, tersengal-sengal mengikuti laju kemiskinan dan ketimpangan yang tidak masuk akal.

Investasi harus menjadi pendobrak kemiskinan dan ketimpangan. Keduanya mesti dipercakapkan hari demi hari agar berjalan selaras dengan investasi.Tanpa penyelesaian, maka investasi hanya akan terisolasi. Pemerintah mesti waspada terhadap kecamuk patalogi ketimpangan dan kemiskinan semacam ini.

Disisi lain, agenda demokrasi dan transformasi ekonomi (juga investasi inklusif) wajib dijalankan oleh pemerintah secara giat. Program terhadap masyarakat rentan mesti dijalankan secara akurat dan tepat sasaran. Jika tidak, maka labirin ketimpangan dan kemiskinan tidak terpetakan jalan keluarnya: teori ekonomi menuju ajal.

Tinggalkan Balasan