Kolom  

Kebijakan Rektor, Harus Di Monitor

Kebijakan Rektor, Harus Di Monitor
Kalangan mahasiswa saat foto bersama. (Foto: SRI)

Oleh: Jhon Qudsi

Rektor Universitas Kehidupan

Senin, 18 Desember Himpunan Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris mengadakan kegiatan sekolah organisasi dengan tema: “membangun dan mewujudkan integritas keorganisasian dalam bingkai mahasiswa.” acara ini merupakan bagian dari program kerja sebagai sarana edukasi kepada para mahasiswa.

Tampak antusias dari mahasiswa yang menghadiri dalam forum acara tersebut yang di bawakan oleh pemateri Fina Diafatus Sa’adah membahas tentang sosiologi kampus meliputi berbagai hal beserta dinamikanya.

Ia menjelaskan bahwasanya dunia kampus seperti miniatur negara, sebab terdapat beberapa lembaga dan organisasi di dalamnya dan sejumlah aturan secara prosedural yang harus di ikuti, serta memiliki berbagai struktur dan garis hierarki.

Seperti halnya badan eksekutif mahasiswa, senator mahasiswa, dewan fakultas, himpunan program studi mahasiswa dan organisasi mahasiswa yang memiliki peranan dan fungsi tanggung jawab masing-masing, juga memiliki regulasi yang mengatur individu dan kelompok di dalamnya.

Antara lain ia juga membahas mengenai karakteristik mahasiswa di bagi menjadi empat golongan.

yang pertama adalah mahasiswa akademis, mahasiswa akademis hanya berkutat pada persoalan akademik sebagai prioritas utamanya, kurang begitu tertarik pada organisasi lebih mempertimbangkan kuliah karena di khawatirkan tidak mampu manajemen waktu.

yang kedua adalah mahasiswa aktivis, merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi sebagai jalan pergerakan pikiran, merespon terkait isu-isu sosial untuk menyuarakan aspirasi ketika terjadi ketimpangan di kampus dan di tengah-tengah masyarakat.

yang ketiga adalah mahasiswa apatis, mahasiswa apatis sebatas melaksanakan rutinitas, masuk kampus dan mengerjakan tugas-tugasnya atau lebih di kenal dengan istilah mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang pergi.

yang keempat adalah mahasiswa hedonis, setiap harinya cuma mikirin bagaimana tampil up to date dan stylish serta budaya konsumtif, mengikuti tren biar tidak di anggap ketinggalan zaman secara tampilan, mengejar sensasi bukan pada hal yang esensial dari jati diri mahasiswa.

Semoga harapannya ke depan kegiatan ini menjadi bekal kelak ketika terjun ke masyarakat sebagai sarana pembelajaran bagi teman-teman mahasiswa yang mengikuti acara sekolah keorganisasian tersebut.

Tentu para peserta bukan hanya sekadar mengikuti serangkaian acara sekolah keorganisasian saja, melainkan harus ada aktualisasi dan realisasi sikap kritis dan logis terhadap pemangku kebijakan kampus atau pemerintahan dll, demi menciptakan keharmonisan civitas akademik.

Ini sebagai bentuk refleksi himpunan mahasiswa program studi tadris bahasa Inggris supaya menjadi corong terdepan dalam menyuarakan aspirasi dari bentuk ketidakadilan sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan dari Rektor dkk, untuk mengawasi jalannya birokrasi kampus agar sehat.

Berani menyuarakan kebenaran sekalipun pahit rasanya, artinya sikap kritis bukanlah hal yang tidak sopan atau tabu, justru kebijakan yang sepihak cendrung mengabaikan dan merugikan hak seorang mahasiswa perlu di tanggapi bukan malah diam, secara tidak langsung orang yang mengetahui kemungkaran tapi ia diam sama halnya berbuat mungkar ( ini juga merupakan bagian dari kewarasan moralitas yang kritis ) yang terpenting tidak menyerang personal dan individu.

Ingat jujur itu baik, tapi harus di perjuangan
Ingat jujur itu indah, dari pada mencari muka
Ingat jujur itu kebenaran dan harus di suarakan.

Tinggalkan Balasan