Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Kopi Pahit Republik, mungkin kesannya itu republik sangat pahit untuk di dengar dan sangat tidak enak untuk di ucapkan, namun di sisi lain republik memiliki arti yang mendalam dan makna yang berbeda, seperti apakah makna republik itu. “Begitulah deskripsi dari Moh Fais Fathoni selaku ketua komunitas sedulur tunggal kopi
Sebetulnya saya membuat kolom tentang kopi pahit republik lebih kepada produk kopi, dan tulisan ini tidak ada kaitannya dengan tema pembahasan republik, setelah saya pertimbangkan, sayang kalau tidak di muat, karena sudah terlanjur tulisan ini di buat. Oke! mari kita simak bersama
Sejarah kopi di Indonesia 1696 adalah air mata para petani dari kolonialisme Belanda yang membawa berkah setelah kemerdekaan Indonesia, hal ini menjadikan hasil dari kopi Indonesia mendapatkan peringkat keempat di dunia dengan kualitas terbaik.
Tetapi persoalannya adalah para petani kopi masih dalam tataran belenggu kapitalisme dari pasar sehingga mengalami kekalahan dari industri besar, akibatnya kesejahteraan para petani menurun secara ekonomi
Maraknya permintaan kopi karena konsumsi kopi begitu besar baik di dalam maupun di luar negeri sehingga mendatangkan keuntungan dari penjualannya, ada berbagai monopoli perdagangan pasar global yang terjadi pada kopi
Kalau kita cermati dari petani kopi, sebagian besar hasil dari panennya jarang untuk menjadikannya sebagai prodak industri rumahan dengan skala kecil, bukankah ini merupakan suatu kemandirian berdagang sehingga kedaulatan ekonomi berada dalam kendali para petani
Terkadang kita miris dengan penuh keharuan, sebab yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi para petani kopi yang seharusnya tidak terjadi, pasar hanya menciptakan hukum permintaan dari industri besar, industri kecil hanya di jadikan alat permainan sehingga nasibnya di persimpangan jalan
Kesadaran akan pentingnya untuk menjual produk secara mandiri sangat minim di tengah-tengah masyarakat, biasanya ketergantungan para petani sudah mengakar, menjual barang mentah bukan bahan jadi yang siap di jual untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi para petani kopi
Apakah persoalan kopi adalah mentalitas para petani yang sudah muak dengan para kapitalisme yang rakus terhadap keuntungan dari hasil kopi sehingga enggan untuk melakukan perubahan karena terkait sistem kebijakan yang tidak berpihak kepada para petani dengan segala keribetan perijinan birokrasi
Bisa jadi para petani kopi memang punya keterbelakangan pengetahuan cara mengelola produk sehingga kalah dalam persaingan dengan industri besar yang mengakibatkan hasil produk kopinya rendah secara nilai jual
Belum lagi masuknya brand kopi dari luar negeri yang sangat di gemari oleh masyarakat kita, dari kalangan kelas menengah ke atas, padahal secara produk, menurut saya sama saja, yang membedakan adalah kemasan dan tempat yang begitu elit secara infrastruktur, itu pun mereka, kesadaran akan pentingnya membeli produk di dalam negeri begitu rendah
Ada semacam perasaan gengsi ketika menikmati kopi hasil produk dalam negeri, hal itu cerminan gaya nongkrong yang hedonis mereka yang gandrung akan kemewahan, justru bertolak belakang dari rasa nasionalisme kecintaan produk dalam negeri, jika perilaku semacam itu di hindari, saya yakin produk kita tidak kalah saing dengan produk luar negeri
Saya akhiri dengan kutipan;
“Di Republik kopi, hanya ada cinta
yang di seduh dengan segala tawa dan air mata
dari aroma rindu
Pahit manisnya kehidupan, namun begitu syahdu.”













