Kolom  

KTT COP27 Komitmen Konkrit atau Hanya Obral Janji?

KTT COP27 Komitmen Konkrit atau Hanya Obral Janji?
Ashila Tasya Amalia adalah Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional - Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: SRI)

Oleh: Ashila Tasya Amalia

 Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah 

Pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Conference of The Parties 27 (KTT COP27) di Sharm El-Sheikh, Mesir pada Senin, 7 November 2022 berhasil dilaksanakan. Mewakili Indonesia dalam forum tersebut, Wakil Presiden Indonesia K.H. Makruf Amin mengungkapkan bahwa terdapat tiga poin utama yang penting untuk diperhatikan sebagai upaya mengatasi isu perubahan iklim. Pertama, KTT COP27 harus mengimplementasikan komitmen pada KTT terdahulu. Kedua, pengimplementasian komitmen tersebut sebaiknya dilakukan dengan menyesuaikan kapasitas dan potensi masing-masing negara. Ketiga, langkah-langkah signifikan yang telah Indonesia arahkan dalam mendukung upaya dalam mengatasi isu perubahan iklim yaitu dengan meningkatkan target penurunan emisi. Terlebih saat ini Indonesia memiliki kehormatan sebagai Presidensi KTT G20 dan ASEAN 2023 mendatang.

KTT COP27 berakhir dengan menghasilkan kesepakatan persiapan mekanisme dana Loss and Damage oleh negara-negara maju guna menunjang negara-negara berkembang yang tengah menghadapi isu bencana perubahan iklim. Selain itu juga terdapat diskusi ketat terkait upaya reformasi pendanaan global untuk mendukung pelaksanaan proyek transisi energi. Kesepakatan untuk memperhatikan kompensasi perubahan iklim yang dihadapi oleh negara-negara berkembang menjadi fokus utama yang saat ini sedang diperjuangkan.

Baca Juga:  Sajak Tan Hamzah, "Kereta Api"

Negara-negara berkembang terkhususnya negara kepulauan terpencil mengapresiasi rencana mekanisme dana Loss and Damage. Namun tidak dipungkiri bahwa perlu adanya peningkatan ambisi. Terlebih terobosan yang menjadi titik kemajuan besar dalam COP27 ini masih menghadirkan tanda tanya besar. Pembentukan mekanisme penyaluran hingga besaran jumlah dana terkait terobosan Loss and Damage tersebut masih belum dapat dirumuskan. Hasil forum menyepakati untuk terlebih dahulu membentuk “komite transisi” yang bertanggung jawab terhadap mekanisme Loss and Damage tersebut. Kesepakatan selanjutnya akan diregulasikan pada KTT COP28 di Uni Emirat Arab tahun mendatang dan diharapkan pertemuan perdana dapat digelar sebelum Maret 2023 berakhir.

Namun yang menjadi kontroversi adalah mencuatnya kritik yang dilayang seusai berakhirnya forum. Para kritikus berpendapat bahwa KTT COP27 yang disebut sebagai KTT PBB terlama tersebut belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Salah satu faktornya adalah KTT COP27 tidak cukup merespon komitmen COP26 Glasgow. Adapun komitmen yang dimaksudkan adalah pengurangan emisi batu bara serta pembatasan emisi gas rumah kaca. Tindakan-tindakan mitigasi dinilai lamban serta penghapusan energi fosil terhambat atas eksistensi penghasil emisi besar dan produsen minyak. Uni Eropa bersama sejumlah pemangku kepentingan lainnya melayangkan kekecewaan. Alok Sharma, seorang politisi asal Inggris yang juga merupakan Ketua KTT COP26 mengungkapkan “Pengurangan batu bara serta bahan bakar fosil tidak tercantum dalam kesepakatan ini sehingga tindak lanjut dari komitmen COP26 tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.” Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyampaikan bahwa pemanasan global ada di depan mata, pengurangan emisi dan penghapusan karbon merupakan urgensi yang perlu diperhatikan namun masalah tersebut tidak dibahas pada KTT COP27 ini.

Baca Juga:  Seberkas Puisi JQ Soenardi Kesadaran

 

Sumber : https://unfccc.int/news/cop27-reaches-breakthrough-agreement-on-new-loss-and-damage-fund-for-vulnerable-countries

Tinggalkan Balasan