Kolom  

Memotret DAPIL 1 dan Calon Legislatif Asal Desa Mandangin

Memotret DAPIL 1 dan Calon Legislatif Asal Desa Mandangin
Ilustrasi Pulau Mandangin. (Foto: ilustrasi)

Oleh: Atiqurrahman

Saya mencoba melakukan pemetaan dan penghitungan politik di Daerah Pemilihan (DAPIL) 1 Kabupaten Sampang. Sebab DAPIL 1 ini memiliki kursi terbanyak diantara DAPIL lainnya, yakni 9 kursi. Juga, terdapat puluhan calon legislatif yang bersaing secara ketat satu sama lain.

Selain itu, saya juga menghitung terkait berapa jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ada di desa saya; Pulau Mandangin. Karena, ada dua orang dari desa Pulau Mandangin yang kini mencalonkan diri sebagai legislatif.

Secara keseluruhan, daftar pemilih tetap DAPIL 1 sekitar 146,666 orang, meliputi tiga kecamatan, yaitu Sampang, Pangarengan dan Torjun.

Kecamatan Sampang, terdapat 12 desa dan pemilihnya 94.853 orang. Kecamatan Pangarengan, terdiri 6 desa dan pemilihnya 18.993 orang. Sedangkan Kecamatan Torjun, ada 13 desa dan pemilihnya 32. 820 orang.

Untuk desa Pulau Mandangin sendiri, menurut ketua PPS ketika mengadakan sosialisasi, jumlah daftar pemilih tetap sekitar 13.500 orang. Dan ada 47 Tempat Pemengutan Suara (TPS) yang nanti akan diselenggarakan.

Sedangkan para calon legislatif di DAPIL 1 ini lumayan banyak sekali. Dalam hitungan saya, berdasarkan pada pengumuman atau keputusan KPU Sampang, setidaknya ada 85 Daftar Calon Tetap (DCT) legislatif.

Rinciannya ialah PKB 9 orang, NasDem 9 orang, Gerindra 9 orang, Gelora 9 orang, PAN 9 orang, PKS 8 orang, PDIP 7 orang, Golkar 8 orang, Demokrat 2 orang, PBB 6 orang, PSI 2 orang dan PPP 7 orang.

Artinya, 85 calon legislatif ini akan bersaing dan mengerahkan segalanya guna memperebutkan 9 kursi yang tersedia di DAPIL 1. Dengan kata lain, hanya 9 oranglah yang keluar sebagai pemenang, sedangkan sisanya, 76 orang akan terlempar.

Biasanya, kemungkinan besar calon legislatif nomer urut satu lah yang keluar sebagai pemenang. Lebih tepatnya, diprioritaskan terpilih untuk duduk sebagai anggota legislatif oleh partai politik. Dan, ini sebuah fakta politik yang cukup sulit terbantahkan.

Nah, pertanyaannya, berapa jumlah yang harus diperoleh oleh calon legislatif agar mendapatkan satu kursi di DAPIL 1?.

Jawaban paling mudah ialah para calon legislatif harus mampu memperoleh dan mendulang suara sebanyak-banyaknya untuk partai politik sebagai kendaraannya. Sebab, peranan partai politik sangat penting dan bisa menentukan mengenai siapa saja yang terpilih atau tidak.

Dan penghitungan suara politik menggunakan metode Sainte Lague, sebagaimana yang termaktub dalam UU pemilu 2017. Di mana metode ini pernah diterapkan pada pemilihan legislatif 2019, dan akan juga diterapkan pada pemilihan legislatif 2024 mendatang.

Secara sederhana, metode Sainte Lague ialah menghitung jumlah secara akumulatif perolehan suara partai politik, kemudian dibagi dengan bilangan angka ganjil (1,3, 5, 7, dan seterusnya) sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia di DAPIL.

Logika mudahnya adalah semakin banyak suara yang diperoleh oleh partai politik, maka dipastikan mendapatkan kursi terbanyak pula. Begitu juga sebaliknya, jika partai politik itu memperoleh suara sedikit, maka dipastikan tidak akan mendapatkan kursi sama sekali, atau paling minim hanya satu kursi.

Nah, apabila kita ingin mengacu pada hasil perolehan suara pemilihan legislatif 2019, sekadar hanya untuk dijadikan referensi, khususnya DAPIL 1. Maka angka minimal yang harus yang diperoleh oleh calon legislatif, yakni 7000 suara, dan angka tertinggi 15.500 suara sebagaimana yang diperoleh Muhammad Faruq dari PPP.

Akan tetapi, sekali lagi, perolehan suara tertinggi ini tidak serta-merta bisa duduk di kursi legislatif. Melainkan berdasarkan pada sebuah kesepakatan internal partai politik itu sendiri.

Dengan realitas demikian, apakah bisa kedua calon legislatif dari desa saya ini bisa lolos atau mendapatkan kursi legislatif?.

Secara realistis, mustahil rasanya kedua calon legislatif itu bisa lolos atau mendapatkan kursi legislatif. Apabila kedua calon legislatif itu hanya berfokus dan mengandalkan pada basis pemilih di desa Pulau Mandangin saja.

Dalam artian, kedua calon legislatif itu tidak melakukan gerakan politik apapun untuk keluar guna mencari sumber pemilih di tempat (desa) lain. Mengingat jumlah pemilih di Pulau Mandangin ini cukup terbatas, dan itu pun saling diperebutkan antar calon legislatif lainnya.

Juga, dalam sejarahnya, belum ada satu pun calon legislatif asal Pulau Mandangin yang perolehan suaranya mencapai 7000. Dan paling mentok hanya 3000 suara, seperti pada pemilihan legislatif 2019 silam.

Nah, satu-satunya cara atau peluang agar desa Pulau Mandangin memiliki anggota legislatif yaitu harus memilih salah satu calon legislatif diantara keduanya, dan bersatu padu dalam memberikan sebagian besar suara kepadanya.

Dengan catatan, calon legislatif yang kita pilih dan perjuangkan ini memiliki posisi daya tawar politik yang kuat terhadap partai politik yang mengusungnya. Jika tidak, calon legislatif asal Pulau Mandangin tak lebih sekadar hiasan politik belaka.

Tinggalkan Balasan