SUARARKYATINDO.COM – Asap tipis mengepul perlahan di halaman Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kraksaan Sidomukti. Bukan pertanda bahaya, melainkan bagian dari simulasi pelatihan mitigasi kebakaran yang diikuti para relawan. Di balik aktivitas itu, tersimpan kesadaran bahwa dapur sehat penopang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dijaga dari risiko sekecil apa pun.
Pelatihan mitigasi kebakaran ini menjadi salah satu upaya SPPG Sidomukti dalam memperkuat kesiapsiagaan relawan, terutama karena aktivitas harian mereka bersinggungan langsung dengan kompor, gas, dan peralatan dapur berskala besar.
Bagi program strategis nasional seperti MBG, aspek keselamatan kerja menjadi pondasi penting agar layanan pemenuhan gizi berjalan tanpa gangguan.
Para relawan tampak serius mengikuti setiap materi. Mulai dari mengenali sumber api, memahami potensi kebakaran di dapur produksi, hingga praktik langsung menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) yang baik dan benar.
Kepala SPPG Kraksaan Sidomukti, Moh Amar Makruf, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda teknis, melainkan bagian dari komitmen menjaga keberlanjutan Program MBG.
“Program Makan Bergizi Gratis menyangkut hajat hidup banyak orang, terutama anak-anak. Karena itu, dapur sebagai jantung program harus aman. Relawan perlu dibekali keterampilan menghadapi situasi darurat agar pelayanan tidak terhenti,” ujar Moh Amar Makruf, usai kegiatan pelatihan di SPPG Kraksaan Sidomukti, Senin (29/12/2025).
Menurutnya, relawan SPPG bukan hanya bertugas menyiapkan makanan bergizi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan kerja yang aman dan tertib. Kesadaran keselamatan, kata dia, harus tumbuh seiring dengan semangat pengabdian.
“Pencegahan jauh lebih penting. Dengan pelatihan ini, relawan tidak panik, tahu apa yang harus dilakukan, dan mampu melindungi diri serta fasilitas yang menunjang program MBG,” tambahnya.
Pelatihan berlangsung interaktif, ditutup dengan evaluasi dan refleksi bersama. Bagi para relawan, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa menjaga kualitas gizi juga berarti menjaga keselamatan. Api boleh menyala di tungku dapur, tetapi harus selalu jinak demi keberlangsungan pelayanan dan masa depan generasi penerus.






