SUARARAKYATINDO.COM- Di tengah mencuatnya Muktamar tandingan dan meruncingnya konflik PBNU-PKB, Cak Imin justru mengorkestrasi kepemimpinannya dengan menghadirkan anak-anak muda sebagai pengurus teras harian DPP PKB.
Kehadiran anak-anak muda ini diharapkan membawa semangat dan nilai-nilai baru dalam tubuh PKB yang lebih sesuai dengan perubahan zaman dan aspirasi politik generasi Z.
Keberadaan anak-anak muda ini merupakan langkah cerdas dan taktis Cak Imin untuk membangun sistem meritokrasi dalam tubuh PKB. Sebab PKB tak ingin kultur partai bergantung pada figur atau sosok tertentu, seperti lazimnya partai politik saat ini.
PKB justru ingin membangun sebuah kultur politik modern berdasarkan kompetensi dan kecakapan intelektual sebagai mesin penggerak partai. Jalan ini sengaja dipilih dan ditempuh Cak Imin demi memajukan dan membesarkan PKB.
Nama-nama seperti Ais Shafiyah Asfar, Gielbran Muhammad Nur, Nadya Alfi Roihana dkk menjadi wajah baru yang akan menghiasi kantor DPP PKB. Dan kerja-kerja politik mereka pasti memberikan warna baru terhadap arah dan kiprah politik PKB ke depan.
Para anak muda ini juga memiliki rekam jejak bagus dan tingkat pendidikan yang memadai. Seperti Ais Shafiyah Asfar, ia adalah seorang kandidat doktor sekaligus anggota legislatif terpilih di Surabaya, dan usianya masih 23 tahun.
Atau Gielbran Muhammad Nur, ia adalah seorang mahasiswa sekaligus mantan BEM UGM, dan cukup vocal dalam menyuarakan krisis demokrasi dan konstitusi. Usianya pun sama, 23 tahun.
Bagi saya, keberadaan dan keterlibatan anak-anak muda ini semacam otokritik terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan PKB, atau dalam istilah Cak Imin sebagai “para pembegal”.
Para pembegal ini tak lebih sekadar politisi tua yang berwatak kekanak-kanakan. Ia menyerang dengan narasi pepesan kosong di tengah semakin besarnya perolehan suara PKB dalam setiap pemilu.
Kini ada 68 kader terbaik PKB yang telah melanggeng ke senayan, dan sebelumnya hanya 58 kader saja. Bertambahnya 10 kader ini menunjukkan sebuah capaian yang luar biasa.
Dan capaian tersebut, saya kira cukup untuk membungkam suara-suara sumbing dan anyir terhadap PKB. PKB akan tetap berdiri kokoh dan selalu fokus pada agenda-agenda kerakyatan dan demokratisasi.
PKB juga tetap selamanya menjadi rumpun aspirasi dan harapan bagi warga Nahdhiyyin. Bagaimana pun juga, PKB lahir dari rahim Nahdhatul Ulama. Meskipun secara organisasi dan orientasi keduanya berbeda.






