Kolom  

Musim Panen Tiba, Antara Derita dan Bahagia

Musim Panen Tiba, Antara Derita dan Bahagia
Musim Panen Tiba, Antara Derita dan Bahagia

Oleh : Fauzy Kek

Kabupaten Probolinggo adalah daerah yg mempunyai 2 aspek geografis, yaitu dataran tinggi atau pegunungan dan dataran rendah atau pesisir. Alamnya membentang luas dengan segala kekayaannya, hasil komoditas pertanian sangat banyak hingga penghasilan ikan cukup melimpah.

Menurut Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian atau DKPP kabupaten Probolinggo bahwa mayoritas masyarakat kabupaten Probolinggo adalah petani, baik itu petani subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Hal itu menjelaskan bahwa komoditas pertanian bisa menjadi tulang punggung ketahanan pangan, baik daerah maupun nasional. Ketersedian pangan menjadi tanggung jawab petani dan pemerintah, sehingga keduanya harus saling bersinergi dalam mencapainya.

Masa Panen Tiba

Saat ini telah memasuki bulan mei pertanda musim panen telah tiba, terutama untuk komoditas pertanian. Momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para petani dan stakeholder terkait.

Daerah penghasil komoditas pertanian di Kabupaten Probolinggo yang cukup banyak salah satunya adalah Kecamatan Tiris. Wilayah tiris berada di dataran tinggi, kira-kira sekitar 300-900 mdpl. Sehingga tanahnya sangat subur untuk berbagai jenis tanaman sesuai karakteristik nya. Meliputi berbagai jenis seperti rempah-rempah, buah, sayur-sayuran serta hasil perkebunan dan tanaman pangan lainnya. Seperti contoh kayu, Kopi, Jagung, singkong, pisang, porang, kapulaga, kayu mahoni, kayu sengon, kayu balsa, cengkeh, jahe, manggis, durian, buah langsat, talas, kelapa, padi, cabe, tomat dan lain sebagainya. Sungguh begitu kaya hasil alamnya…

Belajar Bertani Dan Mengamatinya

Saya dilahirkan dari lingkungan keluarga berprofesi sebagai Petani di Tiris Probolinggo. Sejak kecil, saya sudah terbiasa melihat Bapak bekerja sebagai petani. Setiap pagi pergi ke kebun dan pulang saat azan dhuhur berkumandang. Faktor kebiasaan itu serta realitas lingkungan masyarakat mempengaruhiku untuk mengenal dunia pertanian. Akhirnya, sedikit demi sedikit belajar bertani dengan cara datang langsung ke kebun, entah sendirian atau bersama Bapak untuk membantunya.

Seperti kata Bapak Presiden Jokowi, pemuda yang terjun ke dunia pertanian mulai menurun.

Sebagai anak muda, saya belajar bertani, apalagi orang tuaku juga petani. Jadi, saya harus meneruskannya tanpa melupakan tanggung jawab intelektual dan sosial.

Disisi lain, saya juga mengamati perkembangan pertanian, seperti harga kualitas dan kuantitasnya dari tahun ke tahun.

Realitas Pertanian di Tiris

Selama beberapa tahun ini, saya mengamati perkembangan hasil pertanian. Mulai dari komoditas kopi, buah durian, manggis, kayu, Porang, kayu, kapulaga, dan pisang. Semuanya hampir 90% harganya sama saja dengan 3-4 tahun lalu, bahkan seperti pisang mengalami penurunan drastis. Kondisi harga yang tetap itu tidak sebanding dengan kenaikan harga pupuk dan perawatan lainnya.

Komoditas kopi, manggis dan Durian mengalami penurunan hasil panen sejak 3 tahun yg lalu. Entah itu karena faktor alam (tingginya intensitas hujan) atau bukan rezekinya. Tapi yang pasti, saya belum pernah melihat (mungkin saya mainnya kurang jauh) pemerintah memperhatikan kondisi pertanian tersebut, termasuk dinas pertanian. Maksud saya adalah kenapa itu bisa terjadi dan apa faktor penyebabnya jika diteliti secara keilmuan, bukankah itu sangat membantu para petani.

Hadirnya porang, menjadi solusi bagi petani ditengah menurunnya hasil panen kopi durian dan manggis yg telah lama menjadi kebanggan di kampung untuk menunjang hidup

Saat ini porang pun mengalami nasib yang sama dengan komoditas lainnya. Bahkan, musim panen tahun ini banyak petani tidak menjual / menggali porangnya karena masahal harga yang sangat murah. Salah satu faktor penyebabnya yaitu pabrik mengalami over kapasitas dan regulasi sertifikasi lahan. Lalu, bagaimana dengan ucapan Bapak Presiden yang mengatakan Porang sebagai Mahkota?. Keadaan tersebut menjadi cobaan lagi bagi para petani. Parahnya, belum ada perhatian secara serius dari pemerintah. Kami sebagai petani harus bagaimana?, kondisi ini berbanding terbalik dengan adanya UU No. 19 tahun 2013 tentang Perindungan dan Pemberdayaan Petani? Bukankah itu sebagai sikap keseriusan pemerintah dalam membantu petani? namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

Hasil pertanian adalah sumber pendapatan petani. Namun, harganya mengalami stagnasi. Kebutuhan pokok rerus meningkat. Harga minyak masih menyentuh diatas 20 ribu. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka berimplikasi pada menurunnya minat generasi muda me jadi petani.

Refleksi Bersama

Negara Indonesia hampir 70 persen wilayahnya laut atau negara maritim. Sejak orba sampai sekarang, pemerintah punya program swasembada pangan demi ketahanan pangan nasional. Sebuah negara maritim, namun ingin menjadi negara agraris. Sedangkan tanah-tanah produktif semakin banyak beralih fungsi menjadi bangunan dan pabrik. Komitmen pemerintah dalam menolong petani harus nyata. Tidak sekedar janji menjelang musim pemilu. Kasihan para petani. Mereka sudah rugi karena keringatnya tak sesuai hasil yang didapatkan. Sedangkan kebutuhan pokok dan biaya perawatan terus mengalami kenaikan.

Terakhir, pemerintah mulai lebih aktif turun lapangan. Temui petani, berikan penyuluhan dan dengarkan keluh kesahnya. Ibarat kata-kata “Sudah Jatuh, tertimpa tangga pula”. Semata-mata, air mata yang jatuh hanyalah potret ketidakberdayaannya di hadapan keluarga. Mari, saling bersinergi.

Tinggalkan Balasan