“Ibadah Sajak”
Allahu Akbar
Kudengungkan Nama-Mu yang maha Agung atas pemilik segalanya
Kini malam tak lagi sunyi
Lantunan Qur’an terdengar ditiap – tiap musholla dan masjid
Meramaikan bulan yang Kau buat suci
Umat muslim dengan riang menyambutnya
Sebab datangnya hanya sekali saja dalam dua belas purnama
Seluruh kegiatan baik kini dianggap ibadah
Tidur saja berupa ladang pahala
Kami menyebutnya bulan penuh berkah
Ampunan atas dosa – dosa terbuka lebar baginya
Dan kasih sayang yang dilipat gandakan
Bagaimana tidak,
Kami diberikan pengetahuan tentang nikmatnya setetes air dan sepiring nasi
Sehari penuh menahan haus dan lapar
Dan setelah senja tiba
Betapa syukur berlipat kami haturkan
Seperti seorang perindu yang menemukan tempat bersandar
Allahu Akbar
Hujan yang biasanya berupa air dan kekhawatiran
Kini menjadi sejuk dirasakan
Panas dan angin datang silih berganti
Menjadi ibadah paling hakiki
SamiAllahulimanhamidah
Atas kebenaran didalam dahaga
Semoga Rahmat beserta kerelaan menjadi apa yang dicita – cita
Allahu Akbar
Ku berserah kepada-Mu seutuhnya tentang hidupku yang entah sampai kapan
Kan jalani hari ini dan esok atas kejadian yang sudah Kau tuliskan
Allahu Akbar
Aku duduk bersimbah mengharap segala tiba
Bahwa bukan perihal menunggu tiba waktu berbuka
Tapi lebih dari itu
Sampai kapan hamba akan berbuat dosa
Sedang yang kemarin saja
Belum tuntas kupinta pengampunanya
Allahu Akbar
Banyak mengeluh dan mengaduh
Apalah daya urat dan nadi yang tak mengerti apa arti yang sesungguhnya
Jika hanya lapar dan dahaga
Binatang di hutan belantara saja bisa melakukannya
Allahu Akbar
Akan tetapi
Ratap dan tangis semakin menjadi
Tak bisakah puasa ini juga berupa menahan rindu dan sedih ?
Setelah dipenghujung buka puasa
Minuman dan makanan dihidangkan bersama rasa iba yang dirasakan
Sebab dijalanan masih banyak rakyat yang kering keronta
Jika puasa ialah menahan segala rasa
Tuhan,
Sisipkan juga kedamaian dalam setiap tetes hujan di sore hari
Pertikaian yang tak henti
Hati yang terus berkecamuk
Tentang apa yang akan dihidangkan esok hari
Tidak berupa lauk – pauk dan segarnya berbagai minuman
Tetapi doa petapa tua :
“Ya Tuhan,
Aku sanggup menahan segala rasa lapar dan dahaga
Tetapi bagaimana aku bisa sanggup melihat keadaan yang hingar – bingar. Pejabat negara yang tak selesai – selesai berdeklamasi, meraikan kata merebut suara, pertikaian antar partai politik merebut tahta, saling sikut dan menjatuhkan, pamflet – pamflet tumpang tindih ramai dijalanan
Sedang di pinggiran sana
Rakyat miskin tak selesai memikirkan urusan apa yang harus dimakannya.
Tuhan,
Jika puasa perihal menunggu adzan maghrib
Berilah mereka waktu yang lebih singkat untuk sedikit mengerti tentang berhenti memajang kemewahan
Karna disamping tempok gedung – gedung tinggi, rakyat miskin menangis memikirkan hutang yang bertempuk selama bulan puasa
Hanya untuk sekedar sepiring nasi saja
Sesenggukan yang tercipta dari dasar hati yang tak lagi sanggup menerima skenario hidup
Selalu berharap agar waktu berbuka puasa tidak segera tiba
Karna tak ada beras untuk dimasak
Tak ada lauk untuk dihidangkan
Tuhan,
Jika berpuasa berupa kerelaan
Berilah kami hati yang lapang
Menerima nasib dan keadaan
Dan diberi sedikit lagi tambahan kesabaran
Hingga sampai pada akhirnya nanti
Engkau memberi cahaya kehidupan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan hidup yang amat rumit ini”
Mas Dewa
Minggu, 02 April 2023






