Sajak Mas Dewa, " Ke Tuhanan Yang Maha Esa - Suararakyatindo

Menu

Mode Gelap
KH Zulfa Mustofa Ditunjuk sebagai Pj Ketua Umum PBNU Gantikan Gus Yahya UNUJA–BPS Perkuat Ekosistem Data Lewat Pojok Statistik dan Program Desa Cantik Tembakau Probolinggo Makin Diperhitungkan, Tembus Pasar Antarwilayah Sweet Bonanza Demo Play: A Sugary World of Wins Petani Cabe Rawit di Probolinggo Mulai Tembus Rp 75 Simak Faktanya Aspirasi Run 2025 Semarak, DPRD Probolinggo Dorong Budaya Hidup Sehat

Kolom

Sajak Mas Dewa, ” Ke Tuhanan Yang Maha Esa

badge-check


					Jiwaku, permohonanku, dan permintaanku aku pasrahkan segalanya hanya kepada dirimu ya rob. (Foto; Istimewa) Perbesar

Jiwaku, permohonanku, dan permintaanku aku pasrahkan segalanya hanya kepada dirimu ya rob. (Foto; Istimewa)

Oleh; Mas Dewa

Ke Tuhanan yang Maha Esa

Tuhan
Aku ingin merangkai doa paling khusuk
Agar setiap saat
Tiada lain adalah memuja dan menghamba pada-Mu
Dan akan aku tulis sendiri perihal dosa – dosa
Agar tak ada lagi ruang untuk berpaling dari-Mu

Aku hanyalah hamba yang merangkak
Meniti dengan gemetar
Di alam yang luas
Tanpa batas
Mencari seberkas cahaya-Mu

Satu persatu jalan aku susuri perlahan
Setiap dakwah para petuah aku dengarkan baik – baik
Mencari makna bahwa :
Mau dihantarkan kemana kehidupan ini ?

Sedang aku yang selau sibuk perihal keramaian
Tak selesai – selesai memaknai kehidupan
Benar kata saudara
Bagaimana bisa mengharap surga, jika masih sibuk dengan urusan dunia

 

Seperti mencari jarum dalam tumpukan sekam
Arti kehidupan pelik diterka

Malam yang begitu pekat
Dengan hening yang hakiki
Salah seorang hamba sedang menadah belas kepada Rabbnya
Memelas akan kehidupannya yang sibuk dan terlalu sibuk
Sedang sampai saat ini, materi tak pernah cukup dirasakan

Pagi dibangunkan oleh kerjaannya
Memaksa badannya yang mulai menua bekerja bagai masa muda
Dan baru selesai hingga tiba senja

Ia pulang
rehat kembali dan memikirkan apa yang sedang ia cari
Kerja setiap hari
Kadang ibadah ditumpuk pada saat maghrib
Itupun menjelang adzan isya’
Sekilas ia memikirkan
Perihal pekerjaan dan ibadahnya
Yang masih acak – acakan
Apakah akan selalu begini kehidupan ?

Ditangannya masih melekat sebuah tasbih
Tak terasa ia sudah berbaring dalam balutan kenyamanan
Tak lagi mencari makna
Sebab sesal yang tidak bisa diulang lagi

Paling tidak
Ia sudah berusaha
Menjalani dunianya
Dan mentaati perintah-Nya. Sebisanya.

 

Aku
Dalam tidur
Memaknai mati
Tak sampai selesai
Nafas nyaris berhenti

Hilang kesadaran
Tak ada rasa sakit
Tulang terasa lepas
Kulit menjadi halus
Mata mengabur

Apa ini ?
Pertanyaan tak bertuan dan tak menemukan jawaban

Shadakallahul’adzim

Tiris, 18 Sept 2022

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih

24 Agustus 2025 - 13:33 WIB

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih
Trending di Kolom
error: