Sajak-Sajak Ajonk, "Ampas Dan Gula" - Suararakyatindo

Menu

Mode Gelap
Harga Cabe Rawit Melonjak Tajam, Tembus Rp 80 Ribu per Kilogram Kejari Probolinggo Musnahkan Ribuan Barang Bukti dari 115 Perkara Pidana The Evolution of Gaming: From Pixels to Immersive Worlds A Comprehensive Study on Games: Evolution, Impact, and Future Trends Hanura Siap Upgrade Kader Legislatif Daerah pada Rakernas dan Bimtek di Bandung Mendatang The Evolution and Impact of Team Sports on Society

Kolom

Sajak-Sajak Ajonk, “Ampas Dan Gula”

badge-check


					Suasana Kebisingan Yang Sirna di terpa Badai rata dengan debu kenangan. (Foto: Istimewa) Perbesar

Suasana Kebisingan Yang Sirna di terpa Badai rata dengan debu kenangan. (Foto: Istimewa)

Ampas dan Gula

Kau kenangan yang tak bisa aku lupakan
Dengan kata ini aku jujur, bahwa engkau telah sirna.
Di hembus angin, kau rusak, hancur tak berdaya.
Kau kenangan di masa lalu yang meracik hingga tak mengenal waktu.
Sebelumnya keindahan senja menyapa, dirimu yang menemaniku.
Sampai sapaan matahari menyapa tubuhku, kau setia menemaniku sampai aku terlelap dalam kelalaian waktu.
Tak mengenal waktu…
Tak mengenal apa itu akademik…
Tak mengenal semuanya, yang ku kenal adalah aroma nikmat yang melekat pada lidahku..

Tak heran, kaulah membuat diriku yang tak bisa lupa dengan aromamu…

Tak hanya aroma….
Ampasmu mengisahkan wajah yang memuai keindah pada hari itu…
Itulah yang aku tidak lupa kepadamu…

Suara kebisingan, suara tertawa, suara yang tak lazim aku dengar sambil duduk bercanda tawa..
Tertawa terbahak-bahak
Mengagah akibat ulah manusia..
Itu yang sering terlitas di benakku pada saat menikati aromamu.

Mati suri

Gerakkanku telah hambar pada saat kau hancurkan duniaku..
Berbicara pergerakan….
Bicara kemanusiaan…..
Bicara apa saja yang berkaitan dengan perubahan pada dunia, kau tega hancurkan dengan tanah yang tak sempat aku fikirkan.
Itu adalah rumahku yang telah aku pupuk sejak diriku duduk satu meja denganmu..
Kenangan itu telah hilang menjadi abu yang tak berdaya…

Jiwaku sudah mati suri….
Tak ada marwah wawasan lagi…
Tak ada waktu untuk berbicara tentang hancurnya pemerintah dan bumi ..

Itu adalah ulahmu yang tak sadar akan sejarahku kelam, saat duduk satu meja sambil menikmati aroma keindahan dunia..

Aku menangis saat alat itu menghancurkan rumahku yang telah membentuk jiwaku sampai saat ini aku pegang teguh..

Aku menangis saat dunia sudah berubah, tidak seperti sedia kala….

Aku menangis saat kau hancurkan rumahku yang tak sempat aku menikmati aromamu lagi…

Tak heran, dunia tak lagi seindah masa lalu yang merupakan tempat dialektik dikumandangkan….

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih

24 Agustus 2025 - 13:33 WIB

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih
Trending di Kolom
error: