Kolom  

Sajak-Sajak Mas Dewa, “Lilin Itu”

Sajak-Sajak Mas Dewa, "Lilin itu"
Kesederhanaan hidup lipat dan di tabung. Kesunyian yang hakiki. (Foto; Ilustrasi lilin/ istimewa)

Oleh; Mas Dewa

Doa

Ia lanjut berdoa
Menadah belas pada sang pencipta
Bahwa, semoga,
hari esok masih ada kesempatan lagi untuk berdoa :
Keselamatan
Rezeki
Umur
Dan pengertian yang luhur

Ia bersimpuh
Menghaturkan segala resah
Mengadu nasib yang tak ubah
Hingga api menjadi nyala
Memberi cahaya pada malam yang panjang!

Nyembah!

Peristiwa, berkecamuk didalam dada.

Aku adalah hamba
Yang ibadahnya biasa – biasa saja
Bila terik sudah diatas kepala
Aku bergegas menyembah-Nya
Menjelang petang,
Kembali ku menyembah-Nya
Tiap – tiap waktu yang ditentukan
Aku berada ditempat ibadah
Berulang dan terus – menerus

Sedang jiwamu dimana ?

Seseorang mencari Ruh dan Dzat Ruhnya
Pada tiap penghambaan yang biasa – biasa dan sia – sia.

Lilin Itu

Di sepertiga malam, lilin dinyalakan
Entah apa maksud dan tujuannya

Aku berlari sekencang mungkin
Menyibak gelap
Memecah hening dimalam buta
Mencari anak tangga
Yang tiada batas ujungnya

Pepohonan tak berhenti menyapa dan bertanya :
“Hendak kemana kau tengah malam buta”
tak kuhiraukan
Semakin kencang aku berlari
Membawa sekantong puisi
Yang akan ku persembahkan nanti

Mati
Lilinnya mati
Jantung berdebar
Tak ada angin
Tak ada air
Lilinnya mati

Suara lihir menghampiri pundakku
Sambil berbunyi :
“Sedang apa kau tengah malam berlari dan tergegas – gesa. Bukankah kau sudah lama meninggalkan alam belantara ini. Apa hendak kau cari ?”

Seketia aku membuka mata
Hening – gelap
Tak ada siapa – siapa disekitar
Lalu, milik siapa suara tadi itu ?

Kembali aku memejamkan mata
Memantapkan diri mencari seberkas cahaya
Kemana lagi hendak dicari
Tujuan tak segera tercapai

Sudah cukup lama
Akan segera ku selesaikan saja

Terang
Redup – terang
Entah dari mana munculnya
Cahaya itu jelas sekali
Aku kebingungan
Hendak kemana langkah kali ini

“Tak perlu kau berlari lagi.
Kau datang, sampaikan, kan ‘Ku baca puisimu”.
Kemari, kan ‘Ku kabulkan.

Dengan sendu
Suara itu menarik secarik puisi dikantong bajuku

Dan subuh tiba,
Segera aku berkemas
Merapikan kembali doa – doa yang berserakan
Serta seluruh pinta yang tak beraturan

Jum’at, 30 September 22

Tinggalkan Balasan