PENSIL PATAH
Setiap hari pensil ini dipertajam
Tapi ia lekas pendek
Dan juga mudah patah
Lalu kan kau apakan lagi pensil ini ?
Tulisannya bersua tentang kesedihan
Ia menulis bersama air mata
Tiap bait adalah resah
Dan kalimatnya sungguh berantakan
Tapi ia tetap gigih memperjuangkan ungkapan hatinya
Ia menulis patah
Ia menulis lagi
Ia menulis kesedihan
Ia menulis lagi
Hingga pensilnya kecil
Dan pada tulisan akhirnya
Ia berkata :
Kuli kata hanya pensil patah !
CERITA KEMARIN SORE
Hujan yang enggan berhenti
Dan sepenggal ingatan pada kekasih hati
Entah ia masih sendiri
AtPENSILau sudah memiliki lelaki
Saat hujan begini
Kau selalu suka memasak mie
Dan es teh kesukaanmu
Aku selalu memandangi dan menunggu kau menawarkan makan yang kau masak sendiri
Aku balas dengan senyum puas melihatmu masih bertahan dengan kesederhanaan
Kau sering sekali berkata :
Aku sangat senang saat – saat seperti ini
Bangun tidur, sore hujan, masak mie dan di sampingmu tentunya
Berupa surga dalam bintangku
Ada dimana kau saat ini
Apa kabar sore, hujan, dan mie kesukaanmu
Apakah masih sama seperti itu ?
Ah, lamunan macam apa ini
Kenapa kau kembali
Jika hanya berupa bayang – bayang saja
Atau aku yang memanggilmu ?
Baik – baik ingatan
Hanya kau saja yang ada saat ini
MENDUNG DAN SENJA
Aku adalah rintih lirih dipenghujung hari
Yang akan terus menggodamu
Jangan kau cari
Ia bersembunyi disela – sela kalimat ini
Kau tak akan menemukannya
Aku adalah sepasang sandal jepit yang tinggal sebelah
Sebab kau tinggal saat bermain
Saat langit tengah redup
Dan seberkas senja enggan menampakkan wujudnya.
Sudah,
Cukup seperti ini saja
Jangan ditambah lagi
Dengan kau berlari yang akan membuat sendal sebelah itu putus dan tak terpakai
Ternyata, menggodamu cukup asik juga
Hingga putus sandalmu
Dan lupa bahwa langit mendung akan segera tiba
APA KABAR HARI INI
seperti biasa
Rindu mengusung kenangan lama
Tentangmu yang jauh dan tak terjamah
Hari ini aku baik – baik saja
Entah nanti sore
Bisa masih bersamamu atau kembali pada kehidupan nyata
Kini bunga yang kutanam
Telah dihinggapi oleh kumbang baru
Dan kumbang lalu telah menanam bunga kembali
Untuk taman yang sudah lama kosong
Dari kasih dan keindahan
Keinginanku sederhana
Menikmati hari denganmu dan kenangan lalu
Biar ia menyatu menjadi kisah baru
Agar tak terulang bunga yang layu
JANJI DAN KEPALSUAN
Kenapa kau kemari lagi ?
Tanda tanya itu seperti panah yang menancap didada
Tidakkah seharusnya aku yang bertanya
Kemana saja kau setelah itu
Dengan harapan besar yang kutitipkan pada kelapanganmu
Benar kata petuah :
“Berharap pada manusia berupa bunuh diri paling hakiki”
Pertanyaan itu masih basah diingatan
Ia terus saja mengalir setiap waktu
Dan menggenang dikelopak mata
Tidak selesai disana
Semua hal yang seakan adalah lajur hidup gemilang
Ternyata hanya isapan jempol belaka
Kau pergi
Dan berucap lagi
“Sudahlah, semua pasti berlalu”.
Ini bukan puisi
Tapi kalimat lusuh yang akan terus hidup mengganggu ketenaranmu
Ini adalah mantra digelap buta
Tentangmu, janji dan kepalsuan






