Sajak-Sajak Mas Dewa Pensil Patah - Suararakyatindo

Menu

Mode Gelap
KH Zulfa Mustofa Ditunjuk sebagai Pj Ketua Umum PBNU Gantikan Gus Yahya UNUJA–BPS Perkuat Ekosistem Data Lewat Pojok Statistik dan Program Desa Cantik Tembakau Probolinggo Makin Diperhitungkan, Tembus Pasar Antarwilayah Sweet Bonanza Demo Play: A Sugary World of Wins Petani Cabe Rawit di Probolinggo Mulai Tembus Rp 75 Simak Faktanya Aspirasi Run 2025 Semarak, DPRD Probolinggo Dorong Budaya Hidup Sehat

Kolom

Sajak-Sajak Mas Dewa Pensil Patah

badge-check


					Pensil patah hanya sekedar gambar ilustrasi. (Foto: Ist/ilustrasi) Perbesar

Pensil patah hanya sekedar gambar ilustrasi. (Foto: Ist/ilustrasi)

PENSIL PATAH

Setiap hari pensil ini dipertajam
Tapi ia lekas pendek
Dan juga mudah patah
Lalu kan kau apakan lagi pensil ini ?

Tulisannya bersua tentang kesedihan
Ia menulis bersama air mata
Tiap bait adalah resah
Dan kalimatnya sungguh berantakan
Tapi ia tetap gigih memperjuangkan ungkapan hatinya

Ia menulis patah
Ia menulis lagi
Ia menulis kesedihan
Ia menulis lagi
Hingga pensilnya kecil
Dan pada tulisan akhirnya
Ia berkata :
Kuli kata hanya pensil patah !

CERITA KEMARIN SORE

Hujan yang enggan berhenti
Dan sepenggal ingatan pada kekasih hati
Entah ia masih sendiri
AtPENSILau sudah memiliki lelaki

Saat hujan begini
Kau selalu suka memasak mie
Dan es teh kesukaanmu
Aku selalu memandangi dan menunggu kau menawarkan makan yang kau masak sendiri
Aku balas dengan senyum puas melihatmu masih bertahan dengan kesederhanaan

Kau sering sekali berkata :
Aku sangat senang saat – saat seperti ini
Bangun tidur, sore hujan, masak mie dan di sampingmu tentunya
Berupa surga dalam bintangku

Ada dimana kau saat ini
Apa kabar sore, hujan, dan mie kesukaanmu
Apakah masih sama seperti itu ?

Ah, lamunan macam apa ini
Kenapa kau kembali
Jika hanya berupa bayang – bayang saja
Atau aku yang memanggilmu ?

Baik – baik ingatan
Hanya kau saja yang ada saat ini

MENDUNG DAN SENJA

Aku adalah rintih lirih dipenghujung hari
Yang akan terus menggodamu
Jangan kau cari
Ia bersembunyi disela – sela kalimat ini
Kau tak akan menemukannya

Aku adalah sepasang sandal jepit yang tinggal sebelah
Sebab kau tinggal saat bermain
Saat langit tengah redup
Dan seberkas senja enggan menampakkan wujudnya.

Sudah,
Cukup seperti ini saja
Jangan ditambah lagi
Dengan kau berlari yang akan membuat sendal sebelah itu putus dan tak terpakai

Ternyata, menggodamu cukup asik juga
Hingga putus sandalmu
Dan lupa bahwa langit mendung akan segera tiba

APA KABAR HARI INI

seperti biasa
Rindu mengusung kenangan lama
Tentangmu yang jauh dan tak terjamah

Hari ini aku baik – baik saja
Entah nanti sore
Bisa masih bersamamu atau kembali pada kehidupan nyata

Kini bunga yang kutanam
Telah dihinggapi oleh kumbang baru

Dan kumbang lalu telah menanam bunga kembali
Untuk taman yang sudah lama kosong
Dari kasih dan keindahan

Keinginanku sederhana
Menikmati hari denganmu dan kenangan lalu
Biar ia menyatu menjadi kisah baru
Agar tak terulang bunga yang layu

JANJI DAN KEPALSUAN

Kenapa kau kemari lagi ?

Tanda tanya itu seperti panah yang menancap didada
Tidakkah seharusnya aku yang bertanya
Kemana saja kau setelah itu
Dengan harapan besar yang kutitipkan pada kelapanganmu

Benar kata petuah :
“Berharap pada manusia berupa bunuh diri paling hakiki”

Pertanyaan itu masih basah diingatan
Ia terus saja mengalir setiap waktu
Dan menggenang dikelopak mata

Tidak selesai disana
Semua hal yang seakan adalah lajur hidup gemilang
Ternyata hanya isapan jempol belaka
Kau pergi
Dan berucap lagi
“Sudahlah, semua pasti berlalu”.

Ini bukan puisi
Tapi kalimat lusuh yang akan terus hidup mengganggu ketenaranmu
Ini adalah mantra digelap buta
Tentangmu, janji dan kepalsuan

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih

24 Agustus 2025 - 13:33 WIB

Dana Desa Dipangkas, Kades Dipaksa Tanggung Gagal Bayar Koperasi Merah Putih
Trending di Kolom
error: