SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo – Nasib para driver ojol di Probolinggo kian terhimpit. Sejak pandemi Covid-19, pendapatan mereka terus mengalami penurunan drastis dibanding masa sebelumnya.
Hernati Mediani (64), seorang driver ojol senior asal Kedopok, menceritakan bahwa sebelum pandemi dirinya bisa meraup penghasilan harian antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Namun, kondisi itu kini hanya tinggal kenangan.
“Sekarang pemasukan jauh berbeda, kami sangat bergantung pada pesanan makanan dari restoran dan juga penumpang, terutama dari kalangan pelajar dan pekerja,” ungkapnya.
Salah satu restoran yang dulu cukup membantu keberlangsungan pendapatan driver adalah Mie Gacoan, karena selalu ramai pembeli. Namun, beberapa bulan terakhir jumlah pesanan dari restoran tersebut juga mengalami penurunan.
Kondisi itu turut dirasakan oleh Siti Mujaida (48), driver ojol asal Wonoasih. Ia mengaku semakin berat menjalani hari-hari karena kebutuhan rumah tangga terus meningkat, sementara jumlah order justru semakin sedikit.
“Persaingan makin ketat, orderan berkurang, tapi kebutuhan sehari-hari terus naik. Kami berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi,” keluh Ida.
Fenomena semakin banyaknya warga Probolinggo yang mendaftar menjadi driver ojol, baik di kota maupun kabupaten, juga menjadi gambaran minimnya lapangan pekerjaan.
Bagi sebagian masyarakat, menjadi driver ojol dianggap sebagai jalan keluar, meski hanya berstatus sebagai mitra.
Para driver pun berharap, pemerintah bisa hadir memberi perhatian dan mencari jalan keluar agar kondisi ekonomi mereka bisa kembali stabil.













