Daerah  

Solo dan Jogja Menjadi Saksi Pecahnya Kerajaan Mataram Islam

Solo Dan Jogja Menjadi Saksi Pecahnya Kerajaan Mataram Islam
Saat presiden Jokowi memakai baju khas solo dan Jogja. (Foto: Ig masbutet)

SUARARAKYATINDO.COM- Solo dan Jogja merupakan dua daerah di Indonesia yang dikenal dengan kebudayaan dan adat Jawa yang masih dipertahankan sampai sekarang.

KH merupakan daerah yang mempunyai dua kerajaan besar. Kerjaan ini adalah kerajaan Mataram Islam yang mana dua kerjaan ini pecah menjadi dua yaitu Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Dua kraton ini berasal dari akar keturunan yang sama, yakni Kerajaan Mataram Islam. Tak heran kalau ada banyak kesamaan di kedua kraton, mulai dari budaya, adat dan peninggalannya. Walau begitu, keduanya memiliki ciri khas pembeda tersendiri.

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam yang saat itu berpusat di Surakarta, terpecah menjadi dua. Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sunan Pakubuwono III, sementara kraton baru, Kasultanan Yogyakarta dipimpin Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Perpecahan ini tidak hanya soal wilayah dan batas-batasnya saja, tapi juga berpengaruh pada beberapa aspek lain. Misalnya dari segi arsitektur, pakaian adat, hingga kesenian. Berikut perbedaan mendasar Kraton Jogja dan Solo:

1. Sejarah Dua Kraton dari Kerajaan Mataram Islam

Jauh sebelum terpecah belah, Kerajaan Mataram Islam pertama kali didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan bersama anaknya, Panembahan Senopati di Kotagede. Kerajaan yang diberi nama Mataram Islam ini, berdiri di atas tanah hadiah dari Raja Pajang.

Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam terus berpindah. Tahun 1575-1601, pusat kraton ada di Kotagede, lalu berpindah ke Kerto di masa kepemimpinan Sultan Agung.

Dari Kerto berpindah ke Pleret di masa pemerintahan anak Sultan Agung, yang kemudian bergelar Amangkurat I. Di masa ini, Mataram Islam mengalami pemberontakan dari Trunojoyo yang membuat istana kerajaan hancur tak berbekas. Kemudian pusat kerajaan dipindah ke Kartasura dan berakhir di Surakarta, atau Solo.

2. Perjanjian Giyanti, Awal Terpecahnya Mataram Islam

Tak lama setelah Kerajaan Mataram Islam dipindah ke Surakarta, terjadi perselisihan kedudukan antara keluarga kerajaan. Atas ikut campur kolonial, akhirnya Kerajaan Mataram Islam terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti dilaksanakan pada Februari 1755 di Desa Giyanti. Dari kesepakatan itu, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah baru untuk mendirikan kerajaan. Dan, lahirlah Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I, ingin membuat ciri khas Yogyakarta sendiri. Ciri khas ini dibuat untuk membedakan antara Jogja dengan Solo. Mulai dari gaya arsitektur hingga bagian-bagian kraton.

Kaesang Menikah Dengan Erina

Semuanya terasa damai saat Kaesang Pangarep salah satu putera bungsu orang nomer 1 di Indonesia Presiden Jokowi. Pasalnya, Kaesang Pangarep dan Erina Gudono menikah pada tanggal 10/12/2022 kemaren.

Kaesang Pangarep berasal dari Daerah Surakarta (Solo) dan Erina Gudono berasal dari Daerah Yogyakarta. Kedua mempelai ini sangat kental dengan ciri khas Budaya, adat, dan cara pakainya busana mereka pakai saat resepsi.

Keluarga masing-masing, seperti Presiden Jokowi sangat tampil elegan ketika memakai baju batik dan Belankon saat acara resepsi putera bungsunya. Hal itu menandakan bahwa Solo dan Jogja mempunyai ciri khas budaya yang berbeda sesuai dengan sejarahnya.

Saat pernikahan berlangsung, tradisi Jawa sangat nampak dan di pakai oleh Kaesang Pangarep saat sungkeman terhadap orang tua masing-masing.

Sederhana! Apakah tradisi itu juga sama dengan apa yang ada di daerah-daerah yang lain? Apakah tradisi itu menjadi kesamaan di semua daerah?

Tinggalkan Balasan