Berita  

TAF dan PUPUK Dorong Kapasitas SDM untuk Perkuat Sektor Ekowisata

TAF dan PUPUK Dorong Kapasitas SDM untuk Perkuat Sektor Ekowisata
Moderator Beritabaru.co Al Muiz Liddinillah (pojok kiri atas) bersama para narasumber dalam Festival Pengembangan Usaha dan Pasar Perhutanan Sosial (PUsPa) yang digelar oleh The Asia Foundation (TAF) bekerja sama dengan Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan segenap Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) pendamping Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada Kamis (27/10/2022). (Foto; SRI)

SUARARAKYATINDO.COM- Hutan hadir dengan beragam anugerah yang siapa pun bisa mengambil manfaatnya. Salah satu bentuk pemanfaatan hutan adalah ekowisata.

Menurut Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial KLHK Eko Nopriadi, potensi ekowisata berbasis Perhutanan Sosial terlalu besar untuk disia-siakan begitu saja.

Hal ini ia sampaikan dalam Festival Pengembangan Usaha dan Pasar Perhutanan Sosial (PUsPa) yang digelar oleh The Asia Foundation (TAF) bekerja sama dengan Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan segenap Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) pendamping Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada Kamis (27/10/2022).

Eko menyebut, setidaknya ada tiga (3) model pemanfaatan hutan, yaitu hasil hutan kayu, non-kayu, dan jasa lingkungan. Ekowisata masuk kategori yang ketiga.
“Dari situ kita bisa memahami bahwa skema perhutanan sosial memang, selain untuk menjaga hutan agar tetap lestari, adalah untuk menekan jumlah kemiskinan di Indonesia,” katanya dalam kegiatan daring yang ditayangkan langsung melalui kanal Youtube Beritabaruco dan Asmat Papua Official.

Model-model pemanfaatan tersebut, ungkap Eko, akan bisa berjalan efektif ketika pengelolaan di dalamnya bagus.
Tata Kelola yang ia maksud mencakup pengelolaan kelembagaan atau kapasitas masyarakat, kawasan, dan usaha.

“Untuk konteks ekowisata khususnya tata kelola kelembagaan memainkan peran kunci, yakni tentang pentingnya meningkatkan kapasitas SDM,” ungkap Eko.
Untuk kepentingan tersebut, Sekretaris Jenderal PUPUK Indonesia Early Rahmawati mengatakan, pihaknya komitmen guna melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang tergabung dalam KUPS.

Dan acara yang merupakan seri ke-2 dari Festival PUsPA ini merupakan wadah untuk berbagi pengalaman satu sama lainya, utamanya yang telah mendapatkan pendampingan selama satu tahun melalui program Selamatkan Hutan dan Lahan melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK) III.

“Ini merupakan kegiatan untuk sharing pengalaman selama satu tahun pendampingan dalam program Setapak III, sehingga pelaku usaha bisa mengembangkan bisnisnya,” kata Rahmawati.

“PUPUK sebagai LSM memang sangat memperhatikan Usaha Kecil di Indonesia. Kami komitmen untuk selalu mengembangkan UMKM di Indonesia, khususnya yang berbasis PS,” imbuhnya.

Manfaat nyata

Dampak konkret dari adanya PS berikut aspek filosofisnya tadi dirasakan oleh pelaku ekowisata di Sulawesi Selatan (Sulsel), Hardiono. Sebagai bagian dari KUPS Ekowisata Bure Marimbunna, pihaknya mengaku banyak dibantu dengan adanya izin akses PS.

Hardiono menceritakan, sebelum berjumpa dengan KUPS, ia dan kelompoknya harus menyewa lahan untuk bisnis ekowisatanya.

“Yang sekarang kami tempati itu adalah lokasi kedua ya. Lokasi awal, kami harus mengontrak,” kata Hardiono dalam market gathering yang dipandu oleh Aulina Umaza dan Al Muiz Liddinillah, host kenamaan Beritabaru.co.

Ia mengaku, pada mulanya di tahun 2017, kelompoknya sempat bingung bagaimana mengembangkan bisnis ekowisata sampai akhirnya mereka berjumpa dengan KUPS.
Di sisi lain, bisnis ekowisata semakin menemukan momentumnya ketika Pandemi COVID-19 usai.

Berdasarkan paparan Direktur PT Via Via Jogja Sri Mujiyati, belakangan ada perubahan tren di bidang eco-tourism di Indonesia.

Semakin ke sini, ungkapnya, kecenderungan pasar mengarah pada standar destinasi wisata yang sistem mitigasinya bagus, sehat, dan tidak berdampak rusak pada alam.
“Ini adalah peluang besar bagi industri ekowisata,” tegas Muji, sapaan akrabnya.

Dampak Rusak

Meski demikian, industri ekowisata ini hadir bukan tanpa efek samping. Praktisi Ekowisata dan Juri Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Agus Wiyono menegaskan, dampak rusak ekowisata pasti ada.

Akibatnya, yang penting untuk dibahas bukan soal bagaimana menghilangkan dampak tersebut, tapi menguranginya.

“Sebab bagaimanapun dampak rusak pasti ada. Orientasi ekowisata bukan pada output, tapi pada sejauh mana kita patuh pada 5 prinsip ekowisata,” tandasnya.

Adapun untuk pengembangan lebih lanjut ekowisata, Direktur INDECON (Indonesian Ecotourism Network) Ary Suhandi menyampaikan bahwa jaringan memainkan peran penting di dalamnya.
Untuk itu, kata Ary, bagi yang ingin berdiskusi dengan INDECON atau berbagi pengalaman, pihaknya sangat terbuka.

“Kami terbuka bagi siapa pun. Bagi yang ingin menjadi anggota INDECON cukup mendaftar melalui situs web kami,” paparnya.

Acara ini dihadiri juga oleh Coorporate Forum for CSR Development Dwinda Rahman dan Program Manager Yayasan Tim Layanan Kehutanan Masyarakat Khalid Muhammad.

Tinggalkan Balasan