KRAKSAAN, 16 Maret 2026 – Tiga seniman muda asal Probolinggo menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “Tiga Menguak Jalan Pulang” di Kraksaan. Mereka adalah M. Shodiq, Abdullah, dan Dwi Agusr. Setelah lama menempuh perjalanan artistik di Yogyakarta, ketiganya kini kembali ke tanah kelahiran mereka.
Pameran ini menghadirkan suasana yang intim, reflektif, dan penuh kedalaman. Ketiga seniman itu tidak sekadar pulang secara geografis. Mereka juga membawa gagasan, pengalaman, dan pencarian artistik yang tumbuh selama merantau.

Tiga seniman muda asal Probolinggo menghadirkan pameran seni rupa “Tiga Menguak Jalan Pulang” di Bar Kopi Linggo, Kraksaan, hingga 19 Maret 2026.
Tiga Perupa Muda Probolinggo Kembali Membawa Gagasan Baru
Ketiga seniman dalam pameran ini bukan nama asing di kalangan seni rupa muda. Mereka tumbuh dari daerah, lalu menempuh proses kreatif di Yogyakarta. Meski begitu, mereka tetap menjaga hubungan dengan Probolinggo sebagai ruang asal.
Nama M. Shodiq menjadi salah satu sorotan utama. Ia baru saja meraih penghargaan UOB Most Promising Artist of the Year 2025. Ia juga telah memamerkan karya di sejumlah galeri ternama, termasuk di Singapura dan Hong Kong.
Namun, kekuatan pameran ini tidak hanya bertumpu pada capaian pribadi. Pameran ini justru terasa penting karena tiga seniman muda Probolinggo ini memilih kembali. Mereka membawa karya ke ruang yang dekat dengan masyarakat. Mereka juga membuka dialog baru tentang seni di daerah.
Makna “Pulang” Menjadi Inti Pameran di Kraksaan
Pameran “Tiga Menguak Jalan Pulang” mengangkat tema yang kuat. Ketiga seniman menggunakan gagasan “pulang” sebagai cara untuk membaca ulang kampung halaman. Mereka menelusuri ingatan, identitas, dan hubungan emosional dengan Probolinggo.
Melalui karya-karya yang mereka tampilkan, ketiganya tidak menawarkan romantisme semata. Mereka justru mengajak publik melihat “pulang” sebagai pertanyaan. Dari mana seseorang berasal? Apa yang masih tertinggal dari kampung halaman? Dan bagaimana seni membantu seseorang memahami dirinya sendiri?
Ketiga seniman ini menggarap seluruh proses pameran secara mandiri. Mereka menyusun konsep artistik, menyiapkan karya, dan membangun arah kuratorial secara swadaya. Langkah itu menunjukkan dedikasi mereka terhadap tumbuhnya ekosistem seni di daerah asal.
“Acara ini berangkat dari pertanyaan kami tentang bagaimana menciptakan ruang untuk memahami Probolinggo, sekaligus menemukan jalan pulang kami sendiri,” ungkap M. Shodiq.
Pernyataan itu menegaskan satu hal penting. Pameran ini bukan hanya tempat memajang karya. Pameran ini juga membuka ruang berpikir tentang Probolinggo, generasi muda, dan masa depan seni di daerah.
Publik Menyambut Hangat, Bar Kopi Linggo Jadi Ruang Dialog Seni
Publik menyambut pameran ini dengan antusias. Di tengah minimnya ruang seni rupa yang konsisten di Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo, pameran ini memberi napas segar. Kehadirannya membuka ruang apresiasi yang lebih dekat dan lebih hidup.
Salah satu pengunjung, Uci, menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini terus tumbuh di Probolinggo.
“Kegiatan seni seperti ini sangat berharga untuk Kraksaan. Saya berharap ini menjadi pemantik agar acara serupa semakin sering diadakan, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak ruang untuk mengapresiasi karya seni berkualitas,” ujar Uci.
Selain itu, Bar Kopi Linggo juga ikut memperkuat pameran ini. Ruang tersebut memberi tempat bagi ketiga seniman untuk bertemu langsung dengan publik. Benny, yang mewakili penyedia ruang, menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk mendukung inisiatif positif dari komunitas kreatif di Kabupaten Probolinggo.
Pameran “Tiga Menguak Jalan Pulang” masih berlangsung hingga 19 Maret 2026. Publik bisa mengunjunginya di Bar Kopi Linggo, Jl. Mayjen Panjaitan No. 8, Kraksaan. Pengunjung tidak perlu membayar tiket karena acara ini terbuka gratis untuk umum.
Pameran ini bukan hanya agenda budaya. Pameran ini juga menjadi ruang perjumpaan antara karya, ingatan, dan masyarakat. Dari Kraksaan, tiga seniman muda Probolinggo menunjukkan bahwa seni bisa tumbuh, berbicara, dan pulang ke daerahnya sendiri.













