Kolom  

Transformasi Konflik GAM di Aceh Terhadap Etnis Aceh-Jawa

Transformasi Konflik GAM di Aceh Terhadap Etnis Aceh-Jawa
Transformasi Konflik GAM di Aceh. (Foto: ist/Ilustrasi)

Oleh: Deva Ardhina Zahra

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang

Adanya konflik yang terjadi di Aceh yaitu GAM dengan pemerintah pusat sampai sekarang masih tersisa kenangannya. Mengenai konflik yang terjadi yang pada akhirnya menjadi kenangan sosial. Kenangan secara bersama tersebut terjadi dengan cara langsung atau tidak langsung dan kemudian sudah mempengaruhi antara hubungan sosial masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat. Hal tersebut juga wujud dari adanya etnis Jawa. kejadian tersebut terjadi akibat dari adanya sebab yang muncul. Hasan Tiro merupakan tokoh utama pembentukan GAM. Hasan Tiro pandai dalam menjaga konflik tersebut sehingga menjadikan isu tersebut menjadi isu internasional yang mengangkat isu konflik Jawa yang dianggap dapat membahayakan etnik Aceh. Hasan Tiro yang merupakan pendiri GAM, kemudian beliau mengangkat kembali cerita lama pada masa kejayaan Aceh dan menghubungkan mengenai kekecewaannya yang dirasakan oleh masyarakat Aceh semenjak bergabung menjadi bagian dari Indonesia. Cerita lama yang diangkat oleh Hasan Tiro ini memiliki tujuan yaitu untuk membuat semangat perjuangan dan dapat menumbuhkan kembali pandangan mengenai nasionalisme dalam mewujudkan pikiran politik. Karena menurut beliau pemerintahan pusat merupakan sumber dari adanya banyaknya etnis Jawa yang dianggap banyak membuat kebijakan dan mengeksploitasi sumber daya alam yang terdapat di Aceh. Konflik tersebut juga salah satu penyebabnya karena beberapa hal, yaitu adanya ketidakpuasan atas pengelolaan sumber daya alam di Aceh, adanya perbedaan pendapat tentang hukum Islam di Aceh dan peningkatan populasi orang Jawa di Aceh yang semakin banyak. Hasan Hiro kemudian mulai membangun kembali identitas etnik di Aceh dan mempertanyakan kembali tentang sebuah Nasionalisme. Hasan Hiro juga menganggap bahwa etnis Jawa mempunyai taktik agar mendapatkan kursi yang bagus dengan cara melakukan tindakan curang.

Ada faktor yang mengakibatkan terjadinya ingatan kembali masyarakat Aceh atas isu tersebut, yaitu adanya beberapa bukti fisik seperti gedung-gedung, gambar-gambar, monumen kenangan dan juga terdapat kenangan berupa non-fisik yaitu cerita yang disampaikan oleh masyarakat yang pernah merasakan konflik tersebut melalui media online. Terdapat hal yang dirasakan oleh masyarakat, yaitu menjadi dua aspek positif dan negatif. Aspek positif yang didapatkan oleh masyarakat Aceh yaitu dapat memaknai konflik yang pernah terjadi pada masa lalu, sehingga dapat menjadi pembelajaran. Aspek negatif yang didapatkan yaitu terdapat anggapan yang kurang baik dan berkembang, sehingga akibatnya menjadikan hal tersebut kurang menjadi pengalaman bahkan pengetahuan yang kurang baik bagi masyarakat untuk menganggap masyarakat etnis Jawa. Berita mengenai konflik yang terjadi pada masa lalu, sampai saat ini masih menjadi perbincangan masyarakat Aceh. Konflik tersebut dianggap sebagai suatu pelajaran yang tidak bisa dilupakan, karena dapat menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya mengenai hubungan etnis Aceh-Jawa.

Tinggalkan Balasan