Menu

Mode Gelap
Understanding Gold IRA Accounts: A Complete Information Pemkab Probolinggo dan MUI Bahas Fatwa Penagihan Kredit Bermasalah, Tegaskan Larangan Penarikan Kendaraan di Jalan Bus Rombongan Jemaah Haji Probolinggo Alami Kecelakaan di Madinah Advancements in Treasured Metals IRAs: A Comprehensive Guide To Investing Correctly The most Effective Places To Buy Gold Online: A Complete Guide Investing in Gold: The Benefits of Holding Physical Gold In Your IRA

Uncategorized

Pesantren Tetap Sebagai Subkultur

badge-check


					Kalangan Santri dan pesantren adalah kultur sarungan Perbesar

Kalangan Santri dan pesantren adalah kultur sarungan

Oleh: Atiqurrahman

Akhir-akhir ini, dunia pesantren mendapatkan sorotan di ruang publik. Tradisi dan nilai-nilai yang tumbuh sejak lama di pesantren, kini kembali dipertanyakan, diuji, dan bahkan digugat di ruang publik.

Hal ini, mengingatkan saya pada perdebatan klasik antara kelompok tradisionalis dengan kelompok modernis. Antara kelompok komunitas santri (NU) dengan kelompok liberal-sekuler.

Isu perdebatannya relatif sama, tentang perbedaan corak berfikir dan nilai-nilai yang dianutnya. Mungkin, yang tampak berbeda hanya spektrumnya saja, karena saat ini pengaruh media sosial cukup kuat, sehingga jangkauannya lebih luas.

Sekarang, dunia pesantren sedang dihadapkan atau lebih tepatnya dibenturkan dengan nilai- nilai modernitas. Tayangan Xpose Uncensored Trans7 yang viral itu adalah buah hasil dari benturan tersebut.

Ada pesan dan makna terselubung di dalamnya, bahwa nilai-nilai yang tumbuh di pesantren dianggap tidak relevan lagi, sudah usang, bersifat irasional, dan bahkan tidak selaras dengan arus modernitas.

Arus modernitas ini ingin menitahkan semua orang setara, berfikir rasional, obyektif, memiliki kebebasan dan otonomi individu. Sementara dalam pesantren, relasi kiyai dengan santri dianggap suatu yang timpang, hierakis, tidak setara, dan bahkan dituding sebagai praktik feodalisme wujud baru.

Benturan dua arus (nilai) tersebut, perlu kita lihat dan dudukkan secara jernih dan proporsional. Meski ada perbedaan mendasar antara nilai-nilai pesantren dengan modernitas, baik secara epistemik maupun aksiologis.

Akan tetapi, pesantren dalam proses perkembangannya, cukup adaptif dan fleksibel terhadap perubahan zaman yang didorong oleh laju modernitas.

Dalam pesantren, ada satu maqolah yang senantiasa dipegang teguh oleh komunitas santri, yakni memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Sebagian pesantren, telah menerapkan sistem pendidikan modern, dengan menghadirkan sains dan teknologi ke dalam rumpun kurikulumnya.

Santri sudah dididik berfikir rasional dan inovatif dalam menghadapi realitas sosial, serta dituntut untuk memahami sekaligus memanfaatkan teknologi.

Pelan tapi pasti, perubahan atau adaptasi pesantren ini tampak membuahkan hasil. Ini bisa kita lihat dengan meningkatnya para santri mengeyam perguruan tinggi, baik dalam atau luar negeri.

Menguatkan Pesantren Sebagai Subkultur.

Saya setuju dengan pernyataan Prof. Ismail Fajrie Alatas (antropolog), bahwa tradisi pesantren itu memiliki “gramatika moral”-nya sendiri, –cara khas untuk membayangkan apa itu kebaikan, kesetaraan, keadilan, dan kewajiban.

Oleh karenanya, dunia pesantren itu bersifat unik, otentik, dan sulit ditembus oleh pengaruh modernitas. Gus Dur menyebutnya sebagai subkultur. Karena tidak semua orang mengerti dan faham tentang kehidupan pesantren, terutama soal relasi kiyai dan santri.

Butuh waktu cukup lama untuk sekadar memahami dan menghayati segenap tradisi, perilaku, dan kebudayaan pesantren.

Tradisi seperti mencium tangan kiyai, sowan, ro’an santri, dan sebagainya, adalah sebuah penghormatan, ketakdziman, dan keadaban seorang santri kepada kiyainya.

Sebab, peran dan jasa kiyai begitu besar dan signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, moralitas, dan spritualitas. Kiyai juga ikut andil dalam menyiapkan sekaligus membentuk generasi demi terciptanya peradaban yang lebih baik.

Sementara eksistensi pesantren, usianya jauh lebih tua ketimbang republik ini. Pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan alternatif di tengah keterbatasan lembaga pendidikan milik negara.

Dengan demikian, bagi saya, kehidupan pesantren tetap menjadi subkultur di Indonesia. Meskipun berbagai tudingan atau serangan terhadap pesantren terus saja terjadi. Pesantren akan tetap berdiri kokoh dan takkan tergoyahkan.

Komunitas santri juga takkan rela apabila marwah dan martabat pesantren dan kiyai dicela, dihina, dan direndahkan.

Membela serta menjaga pesantren dan kiyai adalah salah satu bentuk tanggungjawab moralitas dan keadaban santri. Karena hubungan antara pesantren, kiyai, dan santri itu bersifat abadi yang takkan pernah lekang oleh waktu.

Namun demikian, pesantren tidak alergi terhadap sebuah kritik, ia selalu membuka diri. Sebab, tradisi kritik juga tumbuh dalam pesantren. Para santri terbiasa berdialog, berdialektika, dan berdebat dengan menggunakan literatur kitab kuning.

Kritik dari kalangan modernis itu (bukan menghina dan mencela) layak kita dengarkan, tetapi memaksakan kehendaknya untuk mengubah tradisi dan nilai-nilai pesantren, tidak bisa dibenarkan. Sebab pesantren, selamanya sebagai subkultur.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Understanding Gold IRA Accounts: A Complete Information

30 April 2026 - 07:56 WIB

Pemkab Probolinggo dan MUI Bahas Fatwa Penagihan Kredit Bermasalah, Tegaskan Larangan Penarikan Kendaraan di Jalan

29 April 2026 - 21:11 WIB

Pemkab Probolinggo dan MUI Bahas Fatwa Penagihan Kredit Bermasalah, Tegaskan Larangan Penarikan Kendaraan di Jalan

Bus Rombongan Jemaah Haji Probolinggo Alami Kecelakaan di Madinah

29 April 2026 - 16:40 WIB

Bus Rombongan Jemaah Haji Probolinggo Alami Kecelakaan di Madinah, di Duga Meninggal

Advancements in Treasured Metals IRAs: A Comprehensive Guide To Investing Correctly

29 April 2026 - 00:27 WIB

The most Effective Places To Buy Gold Online: A Complete Guide

29 April 2026 - 00:25 WIB

Trending di Uncategorized
error: