Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Citra mahasiswa ketika menghadapi dinamika sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sering kali merasa inferior ( rendah diri ) untuk mengambil peranan dan tindakan karena hanya berlandaskan gengsi pada status mahasiswa atau sarjana, maka hal ini yang menghambat dan sulit untuk berkembang.
mahasiswa dead of gengsi, adalah semacam respon sosial untuk menyadarkan, sebenarnya mahasiswa atau sarjana fungsi utamanya apa? bukankah tugas mereka memberikan pencerahan dan petunjuk untuk dirinya, selebihnya kepada orang lain, untuk pekerjaan dan status sosial adalah persoalan nasib, mahasiswa dan sarjana hanyalah manusia biasa.
mari kita amati persoalan mahasiswa dan sarjana sebagai jawaban untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi, agar lebih menyeluruh memahami tugas dan peranan tanpa harus menilai seberapa besar atau sekecil apapun, biarkanlah mereka menjadi berarti kepada dirinya terlebih kepada orang lain dan lingkungannya tanpa harus di hujat.
mahasiswa dan sarjana merupakan bagian dari masyarakat, yang membedakan hanyalah kualitas berfikir dari pada umumnya, akankah gelar mahasiswa dan sarjana menjadi pembatas sosial, sehingga lari dari tantangan kehidupan, memilih jalan damai dan aman.
kalau kita menyimak sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia telah membuktikan, bahwa agen perubahan di lakukan oleh kalangan mahasiswa dan sarjana, sebut saja Soekarno dan Hatta, mereka tidak hanya duduk membaca buku atau rajin masuk kelas, tetapi berani mengambil peran untuk melepas dari belenggu penjajahan, mereka membuang rasa gengsinya sebagai pribumi, di kala itu di pandang rendah oleh kolonial Belanda.
walau pun serba keterbatasan di era kolonial, tidak ada rasa gengsi Sukarno dan Hatta, mereka percaya diri, teguh pada cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia, kalau saya boleh menyimpulkan dari judul diskusi sedulur tunggal kopi “mahasiswa dead of gengsi” banyaknya mahasiswa dan sarjana, pengangguran bukanlah kurang pekerjaan, melainkan persoalan gengsi untuk bekerja, terlalu mengidamkan duduk di kursi dan berdasi.
berapa banyak orang yang gengsi, terhambat persoalan kehidupannya, bukan tentang nominal angka penghasilan pekerjaan, tetapi kehidupan memerlukan survival dan kreativitas, apapun status pekerjaannya, yang terpenting adalah halal, gengsi merupakan musuh utama ketika mempunyai tujuan karena pertimbangan omongan orang takut di cela dan di hina.
gengsi hanyalah hantu yang di ciptakan sendiri, sehingga terhambat melakukan suatu perubahan, karena mempertimbangkan keadaan yang serba minim, sedangkan gengsi membunuh nalar akal sehat, gengsi membangkitkan rasa malas, melahirkan kaum rebahan, yang mempunyai ekspektasi kehidupan nyaman tapi takut berjuang.
sebab mahasiswa dan sarjana tidak di jamin oleh negara untuk bekerja, tetapi yang banyak di terima, terkadang persoalan relasi punya orang dalam dan hubungan kekeluargaan, maka yang terjadi adalah persaingan dengan cara menyuap bukan berdasarkan kompetensi kemapuan intelektual dan skill, barang kali kejadian ini ada di Negeri Wakanda atau di Universitas Kehidupan.
Dari hasil wawancara saya kepada saudara Moch. Faiz Fathoni selaku ketua komunitas sedulur tunggal kopi.
Apa dampak dari mahasiswa dead of gengsi, terhadap kehidupan mahasiswa?
Dampak dead of gengsi bagi mahasiswa seperti penyakit kronis, karena kegengsian dapat mematikan saraf pemikiran dan denyut nadi pergerakan seorang mahasiswa dalam melakukan sebuah perubahan. Mahasiswa hanya terlalu fokus membandingkan dirinya terhadap mahasiswa lainnya ( style atau mode ) sampai melupakan jati diri seorang mahasiswa, membuang-buang waktu, ingin menunjukkan suatu ke gemerlapan dengan fashion, gaya hidup hedonis.
Mereka tidak sadar dan perlu di sadarkan kembali secara paksa, bahwa gengsi tidak akan membuat mereka lebih unggul dari yang lain, justru membunuh mentalitas intelektual dan nalar kritisnya secara perlahan-lahan, menyiksa diri sendiri, hanya ingin menunjukkan eksistensi yang narsis, “Ingat aku adalah aku yang tidak perlu menjadi kamu,dan kamu adalah kamu yang tidak perlu menjadi aku.”
Ada Sekelumit Cerita Tentang Gengsi
Ada seorang sarjana sibuk mencari kerja di kantor sebagai cita-citanya sewaktu kuliah, namun usahanya selalu gagal, seorang sarjana tersebut gengsi untuk bekerja menjadi petani lantaran di anggap pekerjaan yang rendah status sosialnya, maka ia memutuskan tidak bekerja karena takut kotor dan kepanasan segala macam, lambat laun ia merasakan betapa tersiksanya hidup karena gengsi, tidak mempunyai penghasilan, bahkan menjadi beban perekonomian keluarga, sehingga ia memutuskan menjadi petani karena terpaksa, setelah ia berfikir, kesimpulannya adalah, apapun pekerjaannya bukan persoalan status mahasiswa dan sarjana, selama seseorang bekerja dari hasil keringatnya dan di dapatkan dengan cara yang benar, maka manusia itu menjadi mulia karena telah membuang rasa gengsinya, dengan bekerja.













