Oleh: Atiqurrahman
Saya menonton “Kuliah Kebangsaan” tentang gagasan dua tokoh bakal calon presiden, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo di hadapan ratusan mahasiswa FISIP, UI.
Kesan saya, keduanya sama-sama memiliki peta gagasan yang cukup jelas mengenai arah masa depan Indonesia.
Secara garis besar, Anies berkomitmen untuk memberikan kesetaraan peluang dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa. Karenanya ia akan menghadirkan tiga program pokok; yaitu pemenuhan dan stabilitas bahan pokok, akses pendidikan yang merata dan akses kesehatan yang berkualitas.
Selain itu, Anies juga mencoba melakukan koreksi terhadap apa yang kurang dan salah pada rezim sekarang ini. Salah satunya adalah perihal ketimpangan ekonomi.
Menurut Anies, aktivitas perekonomian kita terlalu terpusat di daerah Jawa sebesar 56,5℅. Sedangkan daerah luar jawa terbilang cukup sedikit, terutama bagian Indonesia timur.
Oleh sebab itu, Anies ingin melakukan intervensi kebijakan ekonomi pada daerah luar jawa guna meningkatkan aktivitas perekonomiannya, sehingga nanti bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi anak-anak bangsa di luar jawa. Ini harus dilakukan demi pemerataan dan keadilan pembangunan. Kue APBN harus dinikmati oleh seluruh anak-anak negeri ini.
Dan, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih setara, adil dan makmur. Maka kita memerlukan kondisi demokrasi yang sehat. Dengan membuka ruang kebebasan seluas-luasnya. Bahwa kebebasan itu ialah hak konstitusional yang melekat dalam setiap warga negara.
Anies mencoba menyitir atas kondisi kebebasan saat ini yang cukup mengkhawatirkan. Kerena ada semacam kecemasan dan ketakutan bagi warga negara dalam menyampaikan pendapatnya atau kritiknya.
Maka, Anies bertekad akan mencabut atau merevisi pasal-pasal karet dalam UU ITE sebagai pangkal masalah dari terjadinya kriminalisasi dan tumbuhnya benih-benih otoritarianisme kekuasaan.
Lalu apa gagasan Ganjar?.
Ganjar memulai gagasannya dengan rasa optimistik, dan kemudian menjelaskan perihal segala tantangan dan ancaman terkait Indonesia ke depan.
Kita mafhum, posisioning Ganjar akan melanjutkan program-program yang sudah dilakukan oleh rezim sekarang ini. Jadi, agak mustahil jika Ganjar melakukan sebuah koreksi atau kritik terhadap jalannya pemerintahan saat ini.
Menurut Ganjar, dalam rangka memperkuat Indonesia ke depan kita memerlukan tiga fondasi: yakni melipat gandakan anggaran, digitalisasi pemerintahan dan membasmi korupsi.
Ketiga fondasi itu menjadi syarat penting guna mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat dan mandiri. Apalagi, Indonesia kini sudah menjadi pemain inti dalam kancah politik kawasan ASEAN. Karenanya Indonesia perlu memanfaatkan kesempatan kerja sama ini untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Dan dalam membangun ketiga fondasi tersebut, Ganjar mencanangkan tujuh program strategis. Diantaranya adalah membangun SDM produktif, perkuat jaring pengaman sosial, kembalikan alam Indonesia, stabilitas harga pangan, hilirisasi menuju industri kelas dunia, menghapus kemiskinan, dan meningkat nilai tambah infrastruktur.
Semetara itu, saya melihat, Ganjar sedikit gelagapan ketika sesi tanya-jawab berlangsung. Terutama soal meningkatnya eskalasi konflik agraria di Indonesia yang tanyakan oleh salah satu panelis.
Dan jawaban Ganjar cenderung normatif dan belum memuaskan. Ini mungkin, karena Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang ikut berkontribusi atas naiknya angka konflik agraria. Dalam catatan WALHI (Jateng), setidaknya ada sembilan kasus konflik agraria sepanjang sepuluh tahun pemerintahan Ganjar.
Ganjar juga menegaskan bahwa dirinya bukanlah petugas partai. Ia adalah seorang pemimpin yang tugasnya hanya untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Dan, ia buktikan ketika menjadi Gubernur di Jawa Tengah.
Meskipun ia mengakui, bahwa ia adalah seorang kader partai, tetapi kalau sudah menjadi pemimpin ia harus memihak dan mengedepankan kepentingan rakyat. Itulah komitmennya di hadapan ratusan Mahasiswa UI.
Dengan demikian, kesimpulan saya, keduanya sama-sama memiliki komitmen dan i’tikad baik untuk membangun negara Indonesia agar lebih kuat dan maju. Keduanya juga menginginkan adanya kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Nah, lantas, bagaimana dengan gagasan Prabowo soal masa depan Indonesia?
Saya tidak tahu jawabannya, untuk semetara waktu—meminjam liriknya Ebiet G. Ade, ”Cobalah bertanya pada rumput yang bergoyang”.













