Oleh: Subhan Akbar Saidi
(Alumni INDEF School Politic and Economy), Terhimpum dalam Komunitas Penulis Maluku
25 tahun telah berlalu, namun jejak sejarahnya menjadi narasi penting dalam setiap aktivitas pergerakan. Gerakan reformasi sebagai gagasan yang dilakukan oleh kelompok pro demokrasi dan
kelompok eksponensial 98 menjadi buah sejarah yang hari ini kita nikmati. Tanpa kegigihan mereka, kebebasan demokrasi sulit kita gapai. Tokoh-tokohnya begitu banyak. Salah satu tokoh penting dalam sejarah 98 yakni, Wahab Talaohu.
Sejak menjadi aktivis, sosoknya memang paling menonjol bersama tokoh aktivis lain-Nya. Selain dikenal berani dan punya leadership yang kuat, pemikirannya juga orisinil. Dia tidak kolot dan tidak terjebak pada doktrin-doktrin kaku meski ia disebut revolusioner. Kearifannya memandang
situasi dan kenyataan yang terjadi. dia lentur dalam aksi namun kuat dalam prinsip.
Sepak terjangnya dalam dunia gerakan sulit bantah oleh sejarah. Sebagai aktivis, Wahab bisa dibilang sosok yang komplit: sebagai ideolog, dia mumpuni; sebagai organisatoris, dia cakap dan militan; dan sebagai pemimpin, dia otentik. Inilah yang kemudian dia didapuk sebagai Komisaris
Independen di PT. Kliring Berjangka Indonesia tahun 2022. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Manajer Pemasaran di perusahaan Swasta tahun 2000, kemudian tahun 2012 menjabat sebagai Komisaris PT. Semen Tonasa (BUMN), dan pada tahun 2020 menjabat sebagai Komisaris PT
Danareksa Finance (BUMN). Seluruh pencapainya berkat kegigihannya sejak menjadi aktivis pergerakan.
Pria kelahiran Maluku 1974 ini bahkan pernah digadang-gadang sebagai menteri dalam pemerintahan Jokowi periode kedua. Saat itu, Presiden Jokowi memberikan ruang kepada alumni Aktivis 98 untuk menjadi menteri. Empat diantara yang di usungkan, terdapat nama Wahab
Talaohu. Hanya saja kondisi politik yang tidak memungkinkan akhirnya ia hanya dipercaya sebagai komisaris.
Wahab Talohu Sang Orator Ulung
Kondisinya begitu mencekam saat itu. Agendanya, menolak Sidang Istimewa MPR (11-13 November 1998). Mahasiswa bergerak dari Jalan Salemba. Mereka terlibat bentrok dengan Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa atau Pam Swakarsa (Kelompok sipil bersenjata yang dibentuk TNI) di kompleks Tugu Proklamasi.
Puncak dari demonstrasi tersebut terjadi pada 13 November 1998. Akibatnya, terdapat 17 orang meninggal dunia, terdiri dari enam mahasiswa, dua pelajar SMA, dua anggota Polri, satu satpam, empat anggota Pam Swakarsa, dan tiga warga sipil. Peristiwa ini dikenal sebagai tragedi Semanggi I.
Sementara Tragedi Semanggi II berlangsung pada tanggal 24 September 1999. Peristiwa ini bermula dari keputusan DPR mengesahkan Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya
(PKB).
Tekanan demonstran yang begitu tinggi dan sengit untuk menolak RUU PKB. Sebetulnya peristiwa Semanggi bukan pertama, tetapi puncak dari serangkaian demonstrasi mahasiswa menentang RUU PKB sejak awal september 1999. Peristiwa pada tragedi Semanggi II mengakibatkan 11 warga sipil tewas dan 217 lainnya luka-luka.
Yang menarik dari persitiwa tersebut, yakni, Wahab Talaohu. Ia tampil heroik dan meneriakkan pekikan sumpah mahasiswa di depan ribuan demonstrasi. Kapasitasnya saat itu sebagai jenderal
lapangan.
Orasinya bagaikan bak singa podium. Ia tampil begitu memukau. Orasinya membakar sekaligus memberikan energi perlawanan terhadap kekuasaan tanpa kompromis.
Maluku Memanggil Wahab Talaohu
Setelah memulai karir di Jakarta, kini waktunya Wahab kembali ke Maluku. Sosok-Nya, begitu tepat untuk menjawab segala persoalan di Maluku.
Sekurang-kurangnya terdapat dua masalah krusial di Maluku. Pertama, Pengangguran; Secara ekonomi merupakan efek dari ketidakmampuan pasar menyerap angkatan kerja yang tersedia. Jika ditelaah data yang dirilis oleh bps Provinsi Maluku, tampilan jumlah pengangguran di Provinsi
Maluku kian miris dan ironi. Pada Agustus 2022, Provinsi Maluku menduduki peringkat ke-5 di Indonesia dengan TPT sebesar 6,88%. Angka ini masih diatas TPT Nasional yaitu sebesar 5,86% pada periode yang sama. Angka ini tidak hanya menimbulkan masalah dibidang ekonomi saja, namun juga dapat menimbulkan kerawanan sosial.
Kedua; Kemiskinan, pekan lalu bps telah merilis presentasi kemiskinan di Maluku. Jumlah penduduk miskin meningkat dari 296 ribu (September 2022) menjadi 301 ribu (Maret 2023). Oleh karena itu, secara presentasi angka kemiskinan meningkat dari 16,23% menjadi 16,42%. Padahal
komoditi unggulan telah di eksekusi oleh pemerintah provinsi, yakni pemanfaatan sektor basis (perikanan). Tetapi, pelaku ekonominya terjerat dalam kubang kemelaratan yang tidak bertepi.
Data diatas mengindikasikan bahwa selama kepemimpinan Murad Ismail, Program yang dirancang belum mampu menjawab masalah kemiskinan dan pengangguran di Maluku.
Saat yang bersamaan, pemimpin akan datang meski memiliki pengalaman dalam mengeksekusi agenda pengentasan kemiskinan dan penyerapan lapangan kerja.
Persoalan diatas menjadi serius karena ternyata Maluku tidak hanya terbelakang secara geografis tetapi terbelakang secara pertumbuhan. Justru itu, sosok Wahab dianggap yang paling ideal dalam
menjawab persoalan yang ada.
Belakangan saya sering berdiskusi dan mendengarkan sosok-Nya. Wahab menjadi sosok yang tepat dan cakap. Berpikir secara rasional, konstruktif dan aktual. Tidak hanya itu, sesekali ia pandai dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi kinerja pemerintah Provinsi Maluku. Ditunggu pengabdiaanya Sang Jenderal Lapangan Aksi Semanggi 98.













