Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Freedom atau lebih di kenal dengan istilah bahasa Indonesianya kebebasan, kebebasan merupakan hak sebagai manusia untuk menyampaikan aspirasinya baik secara lisan atau tulisan, kebebasan berekpresi di lindungi oleh konstitusi
Kendati perkembangannya seringkali memakan banyak korban yang berakhir di ujung jeruji besi karena persoalan menyinggung perasaan pejabat atau lembaga tertentu
Sejatinya kebebasan adalah suatu fitrah yang di anugerahkan Tuhan semenjak ia terlahir di dunia, namun kenyataannya benturan kebebasan berekpresi untuk menyampaikan kritik terhalang oleh norma yang berlaku di masyarakat sehingga di anggap buruk
Batasan kebebasan berekpresi adalah pengendaliannya kita sendiri, selama tidak menghina martabat tubuh biologis atau menyentuh secara fisik, maka kebebasan berekpresi boleh-boleh saja
Kebebasan bisa di katakan kebebasan jika mampu saling beradu argument dengan mengendalikan sentiment sehingga melahirkan diskursus pemikiran sebagai solusi ataupun aspirasi
Tidak ada lembaga tertentu atau agama yang bisa menghalanginya pikiran seseorang kalau mencapai pada tingkat idealisme, agama dan lembaga hanya memberikan tuntunan dan nilai dan moral untuk mempertanggung jawabkan secara logis
Inti dari kebebasan ( freedom ) berekpresi secara lisan ataupun lisan yang melahirkan suatu pergerakan untuk berpihak atau merubah suatu kebijakan yang di nilai terdapat ketimpangan sosial, baik sosial, ekonomi dan politik
Naluri alamiah manusia ketika sudah terancam kebebasannya maka ia akan memberontak sebagai respon untuk melawan dengan segala usahanya, hal yang paling rasional dengan menggunakan pikirannya untuk berargumentasi
Suatu contoh opini saya terhadap kebebasan belajar kurikulum merdeka merupakan solusi dari kurikulum sebelumnya yang terkesan kaku dan membatasi, barangkali keunggulan program ini tidak membatasi pelajar lebih penekanannya kepada aspek kemandirian
Pelajar bisa berinisiatif belajar secara mandiri tanpa bergantung kepada guru untuk meningkatkan daya berfikir kritis analitis dan logis sebagai upaya untuk meningkatkan kreativitas di dalam kemandirian cara berfikir untuk mengeksplorasi kemampuannya sehingga menemukan potensi di dalam dirinya
Namun kebebasan berfikir sering kali terhambat ketika di ruang kelas karena masih berlaku pemusatan yang beranggapan bahwasanya guru atau dosen di anggap sumber pengetahuan utama sehingga melahirkan kebenaran tunggal. Akibatnya siswi atau mahasiswi canggung untuk berbeda pendapat
Padahal Dosen dan Guru hanyalah fasilitator, tidak lain adalah sebagai pembanding dari pengetahuan seorang siswi dan mahasiswi sehingga forum di ruang kelas menjadi aktif
maka saya akhiri dengan kutipan
Kebebasan tidak mungkin bisa di capai hanya dengan pikiran
maka pikiran perlu di realisasikan dengan argumentasi
argumentasi belum mencapai kesempurnaannya
jika tidak ada perlawanan secara pergerakan













