SUARARAKYATINDO.COM – Probolinggo, Ketenangan sebuah musala di kawasan Perumahan Semampir Indah 1, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mendadak terusik.
Di tengah suasana lengang siang hari, seorang pria dengan sarung dan peci menyusup masuk bukan untuk beribadah, melainkan untuk mencuri.
Sabtu, 12 Juli 2025, sekitar pukul 11.35 WIB, kamera pengawas merekam jelas aksi pria tersebut. Tanpa ragu, ia mendekati kotak amal di teras musala dan membongkarnya. Wajahnya terekam utuh, begitu pula pelat nomor sepeda motor Honda Beat yang ia gunakan: N 3182 PH.
Tak ada upaya untuk menyamar atau menutupi identitas. Pelaku seolah percaya bahwa tidak akan ada yang menghalanginya.
“Musala itu dekat SPBU Semampir, depan Cafe Jongkok. Siang itu memang sepi,” ujar Deril, warga sekitar.
Kejadian itu sontak membuat warga resah. Bukan hanya karena uang amal yang raib, tapi karena makna tempat ibadah yang ternoda oleh tindakan tercela. Musala yang semestinya menjadi tempat suci dan aman, kini menjadi sasaran empuk kejahatan.
Warga mengaku ini bukan kali pertama pencurian kotak amal terjadi di kawasan Kraksaan. Meski seringkali pelaku tertangkap kamera, penindakan masih minim. Kekhawatiran pun menguat, apalagi dengan tren pelaku yang kini semakin nekat beraksi di siang hari.
“Kami takut ini jadi kebiasaan. Kalau tak ditindak cepat, bisa makin berani mereka,” ucap warga lain yang enggan disebutkan namanya.
Pesan berantai pun mulai ramai beredar. Foto pelaku, video rekaman CCTV, hingga imbauan agar warga menjaga masjid dan musala di lingkungan masing-masing. Warga berharap pihak berwajib tidak tinggal diam melihat bukti yang sudah begitu jelas.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat. Rumah ibadah tidak hanya perlu dijaga dari sisi spiritual, tapi juga dari potensi ancaman kriminal. Pemasangan CCTV, pengamanan teras, dan pengecekan kotak amal secara rutin jadi langkah awal.
Takmir dan warga perlu bahu-membahu menjaga tempat suci dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Karena iman, tidak hanya soal ibadah, tapi juga soal tanggung jawab sosial.
“Rumah ibadah adalah simbol kepercayaan kita. Jangan sampai jadi sasaran empuk kejahatan hanya karena kita lengah,” tutup Deril.













