Menu

Mode Gelap
May Day di Kabupaten Probolinggo Penuh Kebersamaan, Buruh Sampaikan Delapan Tuntutan Skandal ASN–PPPK di Probolinggo Meledak, Digerebek Suami di Mal hingga Berujung Adu Fisik Harga Daging Ayam di Probolinggo Melonjak, Warga Kurangi Pembelian Khofifah Siap Temui Buruh di May Day 2026, Tekankan Kolaborasi dan Kesejahteraan Pekerja Mostbet uz: download apk and skachat yuklab Android/IOS app for users from Uzbekistan, kirish login com, reviews, owner’s photo, casino bet, uzb Android online Credit Score Donkey’s Best Gold IRA Companies: A Comprehensive Assessment

Ekonomi

Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 82 Juta per Ounce, Goldman Sachs: Safe Haven Utama Hadapi Gejolak Global

badge-check


					Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 82 Juta per Ounce, Goldman Sachs: Safe Haven Utama Hadapi Gejolak Global Perbesar

SUARARAKYATINDO.COM – Jakarta, Prospek harga emas kian mengkilap. Goldman Sachs dalam laporan riset terbarunya memperkirakan harga logam mulia itu bisa melejit jauh melampaui level baseline US$ 4.000 per troy ounce atau sekitar Rp 65,6 juta (kurs Rp 16.400) pada pertengahan 2026.

Harga emas spot dunia sendiri sudah menorehkan rekor baru US$ 3.578,50 per ounce atau setara Rp 58,67 juta pada Rabu (3/9/2025). Lonjakan ini dipicu ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga di akhir bulan ini.

Di dalam negeri, emas batangan Antam 24 karat pada Kamis (4/9) juga tak kalah panas, menembus level Rp 2.044.000 per gram, mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Goldman Sachs memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 3.700 per ounce di akhir 2025 dan US$ 4.000 per ounce di pertengahan 2026, terutama jika tren pembelian oleh bank sentral berlanjut.

Namun, analis memperingatkan ada potensi skenario lebih ekstrem. Jika investor swasta global mengurangi eksposur pada dolar AS dan beralih ke emas, harga logam mulia bisa terdorong ke US$ 4.500 per ounce.

Bahkan, perhitungan mereka menunjukkan harga berpeluang mendekati US$ 5.000 apabila hanya 1% dari total dana swasta di pasar obligasi AS dialihkan ke emas.

Goldman Sachs juga menyoroti upaya Presiden AS Donald Trump yang semakin agresif mengendalikan The Fed. Hilangnya independensi bank sentral dapat memicu inflasi tinggi, naiknya yield obligasi jangka panjang, pelemahan saham, serta penurunan status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Dalam kondisi itu, emas akan tetap menjadi aset penyimpan nilai paling aman karena tidak bergantung pada kepercayaan institusi mana pun.

“Emas tetap menjadi rekomendasi investasi jangka panjang paling kuat dari kami,” tulis Goldman Sachs dalam catatannya yang dikutip Jumat (5/9/2025).

Dengan tren global yang makin tidak pasti, prospek emas dipandang masih cerah. Para analis menyarankan investor untuk menjadikan logam mulia sebagai portofolio utama dalam menghadapi volatilitas ekonomi dan politik dunia.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dapur MBG di Matekan Gerakkan Ekonomi Desa, Warga Dapat Peluang Kerja Baru

20 April 2026 - 18:28 WIB

Dapur MBG di Matekan Gerakkan Ekonomi Desa, Warga Dapat Peluang Kerja Baru

Kopdes Merah Putih Kini Bisa Ajukan Pinjaman hingga Rp3 Miliar ke Bank Himbara

5 September 2025 - 12:15 WIB

Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi! Ini Penjelasan dan Tips Bijak Menyikapinya

5 September 2025 - 10:45 WIB

Harga Emas Antam Naik Lagi, Tembus Rp 2,29 Juta per Gram pada Jumat 7 November 2025

1.000 Ton Gula Petani Lumajang Segera Diserap, Zulkifli Hasan Pastikan Harga Tetap Stabil

21 Agustus 2025 - 21:30 WIB

Multazamudz Dzikri Desak Pemprov Jatim Genjot Kemandirian Ekonomi Hadapi Efisiensi Anggaran 2026

21 Agustus 2025 - 16:05 WIB

Trending di Ekonomi
error: