Menu

Mode Gelap
Understanding Roth IRA Gold Bullion: A Complete Study The most Effective Places to Buy Gold And Silver: A Complete Guide Cabine de Pază: Soluția Ideală pentru Securitatea Proprietății Understanding 401k Rollover Gold IRA: A Complete Information Understanding Bullion IRAs: A Comprehensive Observational Examine Understanding House Storage Gold IRAs: A Comprehensive Guide

Nasional

IPDA dan Kemenpora Dorong Model Baru Kepemimpinan Generasi Muda yang Berakar dan Inovatif

badge-check


					Foto bersama dalam acara Seminar IPDA yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (4/11/2025). (Foto: Kirwan) Perbesar

Foto bersama dalam acara Seminar IPDA yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (4/11/2025). (Foto: Kirwan)

YOGYAKARTA Lebih dari seribu pemuda dari berbagai daerah di Indonesia memadati Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dalam acara puncak bertajuk “Kepemimpinan Pemuda di Tengah Disrupsi AI dan Krisis Sosial.” Kegiatan ini digelar oleh Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) dengan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) serta melibatkan lebih dari 20 komunitas lintas sektor, termasuk Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (DEMA FDK) UIN Sunan Kalijaga pada Selasa (4/11/2025).

Selain menghadirkan sesi diskusi utama, acara tersebut juga dimeriahkan oleh panggung budaya dan pameran UMKM desa yang menampilkan karya kreatif pemuda serta produk unggulan lokal. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara gagasan, karya, dan kebudayaan — menegaskan bahwa kepemimpinan muda lahir bukan hanya dari ruang wacana, tetapi juga dari ruang karya dan ruang sosial yang nyata.

Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani, menyampaikan bahwa forum nasional ini merupakan bentuk nyata dukungan Kemenpora dalam menumbuhkan kepemimpinan muda berbasis inovasi dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin memastikan bahwa percakapan tentang kepemimpinan di era AI tidak berhenti di tataran ide, tetapi menjadi gerakan bersama yang menguatkan desa, kampus, dan komunitas,” ujarnya.

Arifin menambahkan bahwa model kepemimpinan yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan kolaboratif lintas generasi — sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat desa sebagai ekosistem pembelajaran sosial untuk melahirkan generasi pemimpin tangguh dan berorientasi pada perubahan.

Senada dengan itu, Abdur Rozaki, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, menegaskan bahwa kepemimpinan pemuda kini diuji oleh dua gelombang besar: disrupsi teknologi dan krisis sosial.

“Kaum muda bukan hanya calon pemimpin masa depan, mereka adalah pemimpin hari ini,” tegas Rozaki.

Rozaki menilai, pemimpin muda sejati adalah mereka yang mampu membaca zaman, beradaptasi dengan teknologi, namun tetap berpihak pada manusia dan nilai-nilai sosial. Menurutnya, kemajuan digital harus diimbangi dengan empati sosial dan kepekaan budaya agar teknologi tidak mengikis nilai kemanusiaan bangsa.

Tokoh muda dan anggota DPRD Jawa Tengah, MJ. Jafar Shodiq, turut menyoroti bagaimana era digital mengubah wajah kepemimpinan dan pola interaksi sosial-politik Indonesia. Menurutnya, meningkatnya literasi internet tidak selalu menghadirkan masyarakat yang rasional. Arus informasi yang deras tanpa penyaring nilai justru sering memunculkan polarisasi sosial dan krisis kepercayaan.

“Pertarungan politik hari ini bukan lagi soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mampu menguasai persepsi publik. Di sinilah pemimpin muda diuji — bukan sekadar untuk tampil, tetapi untuk mengembalikan politik sebagai sarana pelayanan, bukan manipulasi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Jafar menambahkan, kepemimpinan muda visioner harus mampu menyandingkan kecerdasan digital dengan kepekaan sosial, menjaga idealisme di tengah dominasi kepentingan ekonomi besar, dan menghidupkan kembali semangat pelayanan publik di era demokrasi algoritmik.

Dari sisi akademik, Arin Mamlakah menyoroti tantangan kepemimpinan ilmiah di era kecerdasan buatan. Menurutnya, Artificial Intelligence (AI) kini menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan yang menguji cara manusia berpikir, menulis, dan menilai kebenaran ilmiah.

“AI tidak hanya membantu proses penulisan ilmiah, tetapi juga menguji integritas akademik kita,” katanya. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan akademik masa depan harus dibangun di atas kesadaran etik dan tanggung jawab intelektual, dengan regulasi akademik yang adaptif namun tetap menjaga orisinalitas dan integritas ilmiah.

Sementara itu, Aryo Prabu Kirono, Ketua Bidang Eksternal IPDA, menekankan pentingnya memanfaatkan AI sebagai instrumen kepemimpinan berbasis data untuk memperkuat pembangunan desa.

“AI dapat memperkuat pembangunan desa bila digunakan untuk membaca pola sosial-ekonomi dan memetakan kebutuhan lokal,” jelasnya.

Menurutnya, pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu membaca data, memahami konteks sosial, dan menerjemahkannya menjadi keputusan yang adil. Ia menegaskan, kepemimpinan digital sejati adalah kepemimpinan yang mampu mengelola informasi sebagai sumber daya baru tanpa kehilangan empati terhadap masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Sakur, Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, memberikan refleksi filosofis tentang posisi pemuda desa di era globalisasi digital.

“Pemuda desa kini berdiri di persimpangan yang paling tragis: di satu sisi diikat oleh akar kearifan lokal, di sisi lain ditarik arus algoritma global yang menawarkan ilusi kemakmuran instan,” ujarnya.

Sakur menekankan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mengawinkan tradisi dengan inovasi.

“IPDA menyerukan: gunakan AI bukan untuk melupakan akar, tetapi untuk menerjemahkan kearifan lokal ke dalam visi masa depan,” pungkasnya.

Sebagai penutup, forum nasional ini juga menampilkan panggung budaya dan pameran UMKM desa yang menghadirkan produk unggulan serta karya kreatif anak muda. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa kepemimpinan tidak hanya lahir dari teori, tetapi juga tumbuh dari aksi nyata yang menumbuhkan ekonomi lokal, memperkuat komunitas, dan melestarikan nilai budaya.

Forum “Kepemimpinan Pemuda di Tengah Disrupsi AI dan Krisis Sosial” menegaskan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas pemimpin mudanya, mereka yang mampu menjembatani tradisi dan inovasi, teknologi dan kemanusiaan, data dan nurani.

Dengan dukungan Kemenpora, sinergi antara IPDA, UIN Sunan Kalijaga, dan komunitas kepemudaan menjadi simbol lahirnya model kepemimpinan baru Indonesia yang adaptif terhadap perubahan, berakar pada nilai lokal, dan berorientasi pada keadilan sosial.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

27 April 2026 - 12:48 WIB

invitation-boxes-with-logo-2 (1)

Koridor Hijau Desa Mulai Dibangun di Grobogan, IPDA Jadi Inisiator Utama

22 April 2026 - 17:38 WIB

Polda Metro Jaya Kantongi Inisial Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Diduga Lebih dari Empat Orang

18 Maret 2026 - 20:24 WIB

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI

14 Maret 2026 - 13:00 WIB

Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas Ditahan KPK dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023–2024

13 Maret 2026 - 13:56 WIB

Trending di Nasional
error: