Oleh: Atiqurrahman
Sudah setahun lamanya saya belum bisa kembali menjejakkan kaki di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Rindu itu tak pernah benar-benar surut. Setiap kali momentum besar seperti Haflatul Imtihan dan Haul para masyayikh digelar, hati saya selalu ingin pulang. Namun ada tanggung jawab keluarga yang tak dapat ditinggalkan.
Kerinduan itu akhirnya sedikit terobati melalui sebuah buku berjudul “Genggong yang Saya Kagumi, Dari Bunga hingga Simbol Peradaban.” Buku bunga rampai yang ditulis para shohibul bait dan asatidz Genggong ini diluncurkan bertepatan dengan Haflatul Imtihan. Orang tua saya membelinya, dan sejak halaman pertama, saya seakan diajak pulang menyusuri lorong-lorong kenangan belasan tahun silam, sebelum saya boyong pada 2013 dan melanjutkan pengembaraan ke tanah Mataram Islam, Yogyakarta.
Setiap tulisan dalam buku itu bukan sekadar catatan, melainkan serpihan memori yang hidup. Ada haru yang tak terbendung ketika saya membaca kisah wafatnya KH. Moh. Hasan Saifurridzal pengasuh ketiga juga KH. Moh. Hasan Abdil Bar (Nun Bang) dan KH. Moh. Saiful Islam (Nun Beng). Air mata jatuh begitu saja. Saya larut dalam suasana kehilangan yang digambarkan dengan begitu jujur dan mendalam.
Saya memang belum lahir ketika KH. Moh. Hasan Saifurridzal wafat. Namun kesaksian putranya, KH. Hasan Noufal (Nun Boy), membuat figur sang ayah terasa begitu dekat. Ia menuliskan tiga kenangan penting: masa kecil bersama ayahnya, momen sederhana seperti disuruh mencabut uban, hingga kepedihan saat harus ditinggal untuk selamanya. Catatan itu sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya ia menyentuh, membekas, dan membuat pembaca ikut merasakan duka yang sama.
Wafatnya KH. Hasan Saifurridzal bukan sekadar kehilangan bagi keluarga besar pesantren. Ia adalah ulama sekaligus pejuang. Sebagai bagian dari Laskar Hisbullah, beliau turut berjuang mengusir penjajah, termasuk dalam pertempuran Surabaya 1945. Maka kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi Genggong, melainkan bagi bangsa ini. Legasi yang beliau tinggalkan dalam pendidikan, kebudayaan, dan sosial keagamaan menjadi fondasi kokoh yang terus menopang perjalanan pesantren hingga hari ini.
Didirikan pada 1839, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong telah melintasi zaman demi zaman. Usianya yang panjang tidak membuatnya rapuh. Sebaliknya, ia tetap tegak sebagai mercusuar memancarkan cahaya spiritual, moral, dan intelektual. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi penuntun arah bagi santri, alumni, bahkan bangsa.
Kini, Genggong terus berkembang. Lembaga pendidikannya lengkap, dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sains dan teknologi menjadi bagian penting dari kurikulumnya. Namun di tengah arus modernitas itu, jati dirinya sebagai pesantren salaf tetap terjaga.
Hal ini ditegaskan berulang kali oleh KH. Moh. Hasan Mutawakil Alallah, pengasuh saat ini:
“Genggong tetap menjadi pesantren salaf selamanya sesuai nilai-nilai luhur awal berdirinya, namun Genggong terus mengikuti kebutuhan zaman sebagai bentuk memenuhi harapan masyarakat saat ini dan masyarakat yang akan datang.”
Di sinilah saya melihat Genggong berdiri di antara dua arus besar: tradisionalitas dan modernitas. Ia memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat. Sebuah prinsip klasik yang tetap relevan sepanjang masa.
Bagi saya, Genggong hari ini bukan lagi sekadar nama bunga. Ia telah menjelma menjadi simbol bahkan mercusuar—peradaban. Dari rahimnya lahir generasi yang tak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga siap menjawab tantangan zaman.
Dan bagi siapa pun yang pernah menimba ilmu di sana, Genggong bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah batin, cahaya yang tak pernah padam, dan arah pulang yang selalu dirindukan.













