Menu

Mode Gelap
Observational Analysis on Private Plane Booking: Tendencies, Preferences, And Insights Understanding Private Jet Charter Prices: A Comprehensive Guide The Dynamics and Impression of Sugar Daddy Websites In Philadelphia Investing in IRA Gold Bars: A Complete Information To Trendy Advances The Hidden Advantages of Sugar Daddy Web Sites: Past Monetary Assist One of the Best Places to Buy Gold And Silver Online

Kolom

Puisi Mas Dewa Tentang Suara Rakyat I

badge-check


					Antara kehidupan yang abadi yang meninggalkan kenangan. Foto; Tribunnews.com Perbesar

Antara kehidupan yang abadi yang meninggalkan kenangan. Foto; Tribunnews.com

Oleh; Mas Dewa

Kemarin aku melihat seonggok jagung berdiri kokoh

Dan seorang petani yang sedang istirahat
Sembari mengkhayal
Menimang antara menjual atau untuk di konsumsi sendiri
Sebab harga yang tak menentu

Ini bukan ngesah
Tapi memang hal ini tidak diuntungkan untuk sebagain pihak

Ini bukan cerita
Tapi derita seorang petani yang gigih mempertahankan kehidupannya yang semata – mata bergantung pada hasil taninya.

Kemana mata angin akan membawanya
Kegembiraan atau kegelisahan ?
Tanda tanya itu terus menghantui
Menuntun kealam kehampaan

Seumpama dewi Sri mendengar celoteh ini apa kira – kira yang harus di lakukan seorang petani
Alih profesi ?
Sedang kegiatan ini telah turun – temurun dilaksanakan
Jika tidak, penguasa mau makan apa ?

Dewi Sri,
Kami petani kuno
Tak banyak yang kami harap
Tak muluk – muluk yang kami inginkan
Cukup panen kali ini saja tidak rugi
betapa syukur berlipat kami haturkan
Meski tak cukup, kami tetap gigih
Menjalankan profesi ini

Sayup – sayup rintik hujan mulai membasahi bumi
Seakan mengamini doa petani
Tak lagi bisa di hitung untung – rugi
Semua kehendak sang Ilahi
Paling tidak harga pupuk tak dimanipulasi
Itu saja sudah cukup

Puisi ini tak berupa nasi
Maka tak mengenyangkan
Paling tidak, sedikit coretan ini mewakili suara rakyat (petani) yang tersendat di meja diplomasi

Puisi ini bukan sajak pengisi waktu luang
Tapi suatu bentuk kegelisahan seorang petani yang merugi
Ketika beli bibit harganya selangit
Menjual hasil tani harganya menjerit

Puisi ini milik khalayak ramai
Terkhusus para pejuang
Yang mempertahankan pertanian kepemilikannya tanpa menggeser kedudukan pemimpinnya

Terakhir,
Semoga padi merasakan peluh petani
Semoga jagung merasakan lesu petani
Semoga sayur merasakan jerit petani
Semoga buah, pepohonan, kayu, langit, dan hujan menjadi rahmat bagi petani
Agar tak lusuh wajah pejuang ini

Tumbuh subur perjuangan dan cita – cita seluruh rakyat petani

Mas Dewa, 29 Mei 2022

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: