SUARARAKYATINDO.COM, PROBOLINGGO – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, selama hampir 14 jam memicu banjir bandang pada Kamis (11/12/2025) malam. Luapan air dari kawasan hulu lereng Gunung Argopuro menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur dan mengisolasi ribuan warga di sejumlah desa.
Banjir bandang ini diduga kuat dipicu menurunnya daya dukung lingkungan di kawasan hulu. Warga setempat menilai kerusakan kawasan hutan menjadi salah satu faktor utama yang membuat air hujan tidak lagi terserap secara optimal, sehingga langsung mengalir deras ke wilayah hilir.
Dugaan tersebut menguat setelah sejumlah warga melakukan pemantauan menggunakan drone. Dari hasil pantauan udara, terlihat beberapa titik kawasan hutan gundul di wilayah Perhutani yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jember. Salah satu area yang disorot berada di kawasan yang dikenal warga sebagai Gunung Malang, dengan luas diperkirakan mencapai lebih dari 300 hektare. Pohon-pohon yang ditebang disebut mayoritas merupakan kayu berusia tua.
Agus Subiyanto, warga Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, mengungkapkan bahwa banjir kali ini terasa jauh lebih dahsyat dibandingkan kejadian serupa sebelumnya. Ia menilai kondisi lingkungan di kawasan hulu sudah semakin kritis.
“Banjir sekarang ini lebih parah dibandingkan kejadian sebelumnya. Daya serap air di hulu sudah sangat berkurang, sehingga ketika hujan turun lama dan deras, air langsung meluap,” ujar Agus.
Hujan deras tercatat mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis dini hari pukul 02.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Kondisi itu memicu Sungai Pekalen meluap dengan arus yang sangat kuat. Sedikitnya tiga desa terdampak cukup serius, yakni Desa Andungbiru, Desa Telogoargo, dan Desa Tiris.
Selain merendam permukiman warga, banjir bandang juga merusak infrastruktur vital. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat sebanyak 15 rumah warga terdampak dan lima jembatan mengalami kerusakan hingga putus total. Lima jembatan tersebut terdiri dari dua jembatan permanen dan tiga jembatan semi permanen.
Kerusakan paling fatal terjadi pada jembatan di Dusun Kedaton, Desa Andungbiru. Putusnya jembatan penghubung itu mengakibatkan lebih dari seribu warga di tiga dusun terisolasi total karena tidak ada akses alternatif yang bisa dilalui.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan penanganan darurat, sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan hutan di wilayah hulu. Mereka khawatir, tanpa langkah serius, bencana serupa akan terus berulang dengan dampak yang semakin besar.
Sebagai pengingat, banjir bandang yang melanda kawasan Tiris pada Desember 2018 silam juga menimbulkan kerusakan parah dan bahkan merenggut nyawa dua orang warga. Kejadian terbaru ini kembali menjadi alarm bagi semua pihak akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan hulu sungai.






