Penulis: Atiqurrahman
Membaca perjalanan kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab membuat hati saya merasa terenyuh. Sebab, betapa sederhana dan tulusnya Sayyidina Umar dalam membimbing, mengayomi dan melayani kepentingan rakyatnya.
Sebagaimana kita ketahui, Sayyidina Umar merupakan khilafah kedua setelah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan terpilihnya Sayyidina Umar ditunjuk langsung oleh Abu Bakar sebelum wafatnya, dan kemudian para sahabat membaiatnya.
Potret kesederhanaan dan kepedulian Sayyidina Umar terlihat dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam sepanjang kekhilafahannya. Bahwa Sayyidina Umar lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan pribadi dan keluarganya.
Dalam suatu waktu, Sayyidina Umar pernah melihat anaknya Ashim ingin memakan daging, tetapi oleh Sayyidina Umar tidak diperbolehkannya, karena menurutnya apabila seseorang mengikuti keinginannya itu sungguh berlebihan.
Ya, itulah sikap Sayyidina Umar, yang mengajarkankan sebuah arti kesederhanaan, ketulusan, dan kebersahajaan dalam kehidupan anaknya.
Bahkan melarang keluarganya untuk tidak terjerumus dalam urusan duniawi (materaliatik). Dan, Sayyidina Umar ini satu-satunya khilafah yang hanya memiliki dua jubah (kain) saja. Itupun satunya milik anaknya.
Dengan karakter Sayyidina Umar demikian, Baginda Nabi Muhammad saw pernah memujinya. Bahwa “Sebaik-baik orang adalah Umar, ia mencari janda dan anak yatim, lalu membawakan mereka makanan. Sementara mereka dalam keadaan tertidur”.
Selain itu, pada masa kekhilafahannya, Sayyidina Umar dikenal sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan rakyatnya, dan ketika malam telah tiba ia menyusuri jalan, menemui rakyatnya hanya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.
Hal itu dilakukan oleh Sayyidina Umar karena tanggungjawabnya sebagai seorang pemimpin umat. Ia tak ingin berbuat lalai dan tak adil kepada rakyatnya. Sebagaimana doanya, “Ya Allah, jangan jadikan kesengsaraan umat Muhammad saw pada kebijakanku”.
Itulah secuil potret dari kisah hidup dan kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab. Darinya kita–umat muslim bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah berharga. Terutama dalam kesederhanaan hidup dan kepedulian antar sesama.
Dan pengabdian Sayyidina Umar terhadap rakyatnya ini, patut jadi contoh bagi para pemimpin hari ini. Mengingat, ada sebagian pemimpin telah bersikap abai, lalai, dan tidak memperdulikan nasib rakyatnya.
Bahkan lebih mengutamakan kepentingan keluarga dan kelompoknya daripada harus memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sebagai tanggungjawabnya.
Sayyidina Umar ini, meski dulu terkenal sebagai sosok mudah marah dan berjiwa temperamen, tetapi hatinya sangat lembut sekali. Dan, ia telah mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk membela, berjuang dan menyebarkan agama Islam.
Di masa kekhalifahannya, salah satu keberhasilannya adalah merebut dan membebaskan Kota Yerusalem dari cengkeraman Imperium Romawi, melalui komandan perangnya yakni Khalid bin Walid.
Setelah berhasil ditaklukan, Sayyidina Umar datang ke Yerussalem dengan hanya menaiki onta dan sedikit pengawalan. Sehingga, para pemimpin Romawi yang melihatnya merasa takjub dan rendah diri atas sikap kesederhanaannya.






