Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Tidak banyak yang di harapkan, melainkan kesehatan dan keselamatan, begitulah tutur seorang ibu penjual lupis apem dan ketan ( entah apa penyebutannya saya kurang paham ) sebab yang di jual tiga menu, masih dalam keluarga ketan, yang jelas ini bukan persoalan koalisi tiga partai untuk mencari figur seorang pemimpin sebagai presiden, tetapi ini menu makanan ringan di pagi hari
Sempat saya tanya-tanya kepada penjual lupis, ketan dan apem, di hari itu datangnya hampir habis karena banyaknya pesanan, kebetulan menu yang paling saya sukai adalah lupis di taburi parutan kelapa ( perlu di deskripsikan supaya ada imajinasi ke arah makanan tersebut ) jajanan ini memang terbilang tradisional yang banyak di gemari
Saya pernah berbohong kepada teman, kalau Gubernur Jawa Timur, ibu H Khofifah Indar Parawansa kalau ke Probolinggo di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong selalu mampir ke lapak penjual lupis apem dan ketan pasti membelinya, sebab ini makanan favorit beliau ketika di masa kecil dulu, bisa di katakan beliau bernostalgia. “ujar saya kepada teman.” Lantas ia jawab “ah iya tah Bang.” seraya ia penuh tanda tanya
Dulunya, Ibu penjual lupis apem dan ketan itu seorang TKW di Malaysia, lalu menemukan cintanya dengan orang Probolinggo lalu memutuskan untuk menikah, sedangkan dia berasal dari Jember, lalu memutuskan untuk pulang ke Probolinggo tepatnya di desa Karangbong, membuat usaha kecil-kecilan jualan lupis ketan dan apem.
Saya ucapkan selamat kepada warga Karangbong dan khususnya para santri Genggong untuk menikmati hidangan, lupis apem dan ketan, silahkan pilih diantar tiga menu itu, boleh di campur lupis vs apem, ketan vs lupis atau apem vs ketan, yang terpenting adalah bayar setelah makan
Ibu sudah punya cucu berapa? tanya aku kepada dia, aku sudah punya cucu dua, yang paling tua sudah kuliah, yang saya heran dari ibu, ada sosok suami setia menemani dan membantunya sehingga memudahkannya ketika melayani pelanggan secara cepat dan tepat, baik di saat serbuan para pelanggan atau ketika sedang sepi
Apa yang saya liat dari potret kemesraan Ibu dan suaminya itu, membuat saya terenyuh melihatnya, begitu romantis ketika sepasang kekasih kompak bekerja untuk memenuhi perekonomian kebutuhan keluarga, tampak dari kerjasama mereka berdua melayani setiap pelanggan dengan senyuman yang ramah
Tentu saja, peristiwa ini menjadikan saya harus banyak belajar tentang cara merawat keharmonisan pasangan ketika usia sudah mencapai enam puluh tahunan, namun perasaan cintanya tetap lestari sekalipun terbilang sederhana tetapi penuh makna













