Menu

Mode Gelap
Containere Modulare: O Soluție Avantajoasă și Eficientă Cabina de paza: Un scut indispensabil pentru securitatea ta Transferring Your 401(Ok) To Gold: A Comprehensive Information Mostbet uz: download apk and skachat yuklab Android/IOS setup for Uzbekistan, kirish login com, reviews, owner’s photo, casino bet, uzb Android online Containerul de Pază: O Soluție Eficientă și Sigură de Supraveghere Case Modulare: O Soluție Inovatoare și Eficientă pentru Viitor

Daerah

Genggong: Mercusuar Peradaban

badge-check


					Genggong: Mercusuar Peradaban Perbesar

Genggong: Mercusuar Peradaban

Oleh: Atiqurrahman

Sudah setahun lamanya saya belum bisa kembali menjejakkan kaki di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Rindu itu tak pernah benar-benar surut. Setiap kali momentum besar seperti Haflatul Imtihan dan Haul para masyayikh digelar, hati saya selalu ingin pulang. Namun ada tanggung jawab keluarga yang tak dapat ditinggalkan.

Kerinduan itu akhirnya sedikit terobati melalui sebuah buku berjudul “Genggong yang Saya Kagumi, Dari Bunga hingga Simbol Peradaban.” Buku bunga rampai yang ditulis para shohibul bait dan asatidz Genggong ini diluncurkan bertepatan dengan Haflatul Imtihan. Orang tua saya membelinya, dan sejak halaman pertama, saya seakan diajak pulang menyusuri lorong-lorong kenangan belasan tahun silam, sebelum saya boyong pada 2013 dan melanjutkan pengembaraan ke tanah Mataram Islam, Yogyakarta.

Setiap tulisan dalam buku itu bukan sekadar catatan, melainkan serpihan memori yang hidup. Ada haru yang tak terbendung ketika saya membaca kisah wafatnya KH. Moh. Hasan Saifurridzal pengasuh ketiga juga KH. Moh. Hasan Abdil Bar (Nun Bang) dan KH. Moh. Saiful Islam (Nun Beng). Air mata jatuh begitu saja. Saya larut dalam suasana kehilangan yang digambarkan dengan begitu jujur dan mendalam.

Saya memang belum lahir ketika KH. Moh. Hasan Saifurridzal wafat. Namun kesaksian putranya, KH. Hasan Noufal (Nun Boy), membuat figur sang ayah terasa begitu dekat. Ia menuliskan tiga kenangan penting: masa kecil bersama ayahnya, momen sederhana seperti disuruh mencabut uban, hingga kepedihan saat harus ditinggal untuk selamanya. Catatan itu sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya ia menyentuh, membekas, dan membuat pembaca ikut merasakan duka yang sama.

Wafatnya KH. Hasan Saifurridzal bukan sekadar kehilangan bagi keluarga besar pesantren. Ia adalah ulama sekaligus pejuang. Sebagai bagian dari Laskar Hisbullah, beliau turut berjuang mengusir penjajah, termasuk dalam pertempuran Surabaya 1945. Maka kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi Genggong, melainkan bagi bangsa ini. Legasi yang beliau tinggalkan dalam pendidikan, kebudayaan, dan sosial keagamaan menjadi fondasi kokoh yang terus menopang perjalanan pesantren hingga hari ini.

Didirikan pada 1839, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong telah melintasi zaman demi zaman. Usianya yang panjang tidak membuatnya rapuh. Sebaliknya, ia tetap tegak sebagai mercusuar memancarkan cahaya spiritual, moral, dan intelektual. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi penuntun arah bagi santri, alumni, bahkan bangsa.

Kini, Genggong terus berkembang. Lembaga pendidikannya lengkap, dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sains dan teknologi menjadi bagian penting dari kurikulumnya. Namun di tengah arus modernitas itu, jati dirinya sebagai pesantren salaf tetap terjaga.

Hal ini ditegaskan berulang kali oleh KH. Moh. Hasan Mutawakil Alallah, pengasuh saat ini:

“Genggong tetap menjadi pesantren salaf selamanya sesuai nilai-nilai luhur awal berdirinya, namun Genggong terus mengikuti kebutuhan zaman sebagai bentuk memenuhi harapan masyarakat saat ini dan masyarakat yang akan datang.”

Di sinilah saya melihat Genggong berdiri di antara dua arus besar: tradisionalitas dan modernitas. Ia memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat. Sebuah prinsip klasik yang tetap relevan sepanjang masa.

Bagi saya, Genggong hari ini bukan lagi sekadar nama bunga. Ia telah menjelma menjadi simbol bahkan mercusuar—peradaban. Dari rahimnya lahir generasi yang tak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga siap menjawab tantangan zaman.

Dan bagi siapa pun yang pernah menimba ilmu di sana, Genggong bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah batin, cahaya yang tak pernah padam, dan arah pulang yang selalu dirindukan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wali Kota Absen, Rapat Paripurna LKPJ DPRD Kota Probolinggo Dijadwal Ulang

20 April 2026 - 18:35 WIB

Pemerintah Kota Probolinggo Wajibkan OPD Gunakan Air Mineral Lokal, DPRD Soroti Potensi Keberpihakan

Genggong Go Green ke-7, Gerakan Moral Bersepeda untuk Efisiensi Energi

19 April 2026 - 17:10 WIB

Genggong Go Green ke-7, Gerakan Moral Bersepeda untuk Efisiensi Energi

Ketua PC GP Ansor Kraksaan Siap Tempuh Jalur Hukum Usai Aksi di Rumah Pribadi

19 April 2026 - 13:28 WIB

Ketua PC GP Ansor Kraksaan Siap Tempuh Jalur Hukum Usai Aksi di Rumah Pribadi

Abd Wahid Resmi Jadi Sekretaris PC GP Ansor Kraksaan, Tegaskan Dipilih Lewat Pleno Sah

19 April 2026 - 10:53 WIB

Abd Wahid Resmi Jadi Sekretaris PC GP Ansor Kraksaan, Tegaskan Dipilih Lewat Pleno Sah

Komandan Banser Kraksaan Bantah Keterlibatan Organisasi dalam Aksi di Kediaman Ketua GP Ansor

19 April 2026 - 10:48 WIB

Komandan Banser Kraksaan Bantah Keterlibatan Organisasi dalam Aksi di Kediaman Ketua GP Ansor
Trending di Daerah
error: