SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bergerak melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana di wilayah timur. Namun di balik langkah percepatan tersebut, terungkap bahwa sejumlah kerusakan dipicu desain lama yang dinilai kurang adaptif terhadap kondisi alam.
Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, turun langsung bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meninjau sejumlah titik terdampak di Kecamatan Kraksaan, Besuk hingga Kotaanyar.
Dalam peninjauan itu, Bupati Haris meminta warga terdampak untuk bersabar. Ia menegaskan bahwa proses perbaikan tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga ketepatan konstruksi agar tidak kembali rusak saat bencana serupa terjadi.
“Kami ingin perbaikannya benar-benar kuat, Jangan sampai setelah selesai, rusak lagi saat debit air naik,” ujarnya.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian serius adalah jalan amblas yang menghubungkan Desa Talkandang, Glagah dan Desa Sumbercenteng. Selain itu, pembangunan jembatan di Dusun Poreng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kotaanyar juga menjadi fokus evaluasi.
Menurut Haris, konsep pembangunan jembatan kini diubah secara signifikan. Jembatan baru akan dibuat lebih tinggi dari sebelumnya karena konstruksi lama dinilai terlalu rendah dan rawan tersapu arus deras saat banjir.
“Ada perubahan desain. Jembatan akan kami tinggikan dan pondasinya diperkuat. Prosesnya memang butuh waktu, tapi pengerjaan terus berjalan, termasuk optimalisasi jembatan darurat,” katanya.
Tak hanya faktor cuaca ekstrem, Pemkab juga mulai menyoroti persoalan alih fungsi lahan yang diduga memperparah dampak banjir. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Perhutani, sekitar 40 persen kawasan dinilai perlu dilakukan reboisasi sebagai langkah pemulihan lingkungan.
“Ini jadi bahan evaluasi bersama. Kami tidak hanya fokus memperbaiki, tetapi juga mencegah agar banjir ke depan bisa ditekan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, Hengki Cahjo Saputra, menjelaskan bahwa perbaikan jalan penghubung tiga desa di Sumbercenteng sebenarnya telah dimulai sejak sebulan lalu. Namun prosesnya sempat terkendala karena menggunakan box culvert pabrikasi.
Enam unit box culvert berukuran 3×3 meter saat ini masih dalam tahap pengeringan di pabrik Surabaya. Setelah proses tersebut rampung, material akan dikirim dan dipasang menggunakan crane serta alat berat.
Adapun untuk jembatan di Dusun Poreng, konstruksi yang digunakan berupa baja komposit dengan gelagar kayu. Pabrikasi rangka jembatan tengah berjalan, sementara pembangunan abutment di lokasi terus dikebut agar pemasangan dapat segera dilakukan.
Pemkab Probolinggo memastikan seluruh proses perbaikan akan diawasi ketat agar hasilnya lebih kokoh dan mampu bertahan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.













