Oleh: Jhon Qudsi
Rektor Universitas Kehidupan
Hari ini kampus terlihat benar-benar rame, karena di selenggarakannya ujian akhir semester, tampak dari kendaraan roda dua atau pun roda empat yang terparkir memadati di halaman kampus, kalau kita saksikan sejenak para mahasiswa dan mahasiswi berpakaian rapi lengkap dengan segala macam atribut almamater
Sepertinya sangat serius akan mengikuti ujian akhir semester, ruang-ruang kelas sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya, penuh tanpa ada yang tersisa sedikitpun baik yang rajin atau pun yang suka bolos masuk semua, full kelas
Mari kita berfikir sejenak siapakah yang di sebut sebagai mahasiswa dan mahasiswi, sebelum menelisik jauh untuk mengetahui jati diri mereka, mahasiswa dan mahasiswi dari gabungan dua akar kata maha dan siswa, ia adalah pelajar yang paling tinggi tingkat intelektualitasnya yang di harapkan menjadi insan paripurna secara akademis
Seorang mahasiswa dan mahasiswi kalau mengacu sebagai agen perubahan dan pilar demokrasi itu sudah tepat, mari kita telusuri hal yang esensial dari seorang mahasiswa dan mahasiswi, jika hanya sekedar pergi ke kampus lalu pulang tanpa adanya kesadaran nalar dan pemahaman yang kritis, maka tidak ada bedanya dengan siswa
Karena yang membedakan dari mahasiswa-mahasiswi dengan seorang siswa-siswi adalah pola pikirnya yang dapat di pertanggung jawabkan dengan mempunyai landasan dasar baik secara gagasan maupun tindakan
Ayo kita pertanyaan tentang integritas ujian akhir semester, hal ini yang menjadi persoalan begitu ganjal ketika ujian di selenggarakan malah memperbolehkan membuka buku dan kebanyakan dari mahasiswa dan mahasiswi menggunakan hp lalu Googling
Apakah cara semacam ini merupakan taktik dosen yang tidak mampu memberikan materi kuliah sehingga menghina dengan cara memperbolehkan menyontek, ataukah kesediaan para mahasiswa dan mahasiswi sudah tidak mampu lagi berfikir secara maksimal dan enggan untuk belajar akibatnya tergantung dari dispensasi dari ujian tersebut, dan rata-rata mereka merasa senang dengan adanya kelonggaran ( open books )
Kalau mereka hanya mementingkan nilai niscaya akan terbelenggu oleh angka, padahal secara hakikat ujian akhir semester merupakan bentuk kemampuan integritas individu secara intelektual untuk mengetahui sejauh mana materi kuliah yang telah ia kuasai dan di pahami
Bisa jadi agenda ujian akhir semester hanya menuntut pembayaran demi kepentingan yang bukan-bukan, karena mengingat kebijakan dari Rektor dkk secara fasilitas dan kapasitas begitu minim
Belum lagi beban uang tahapan yang harus di bayar selalu melonjak tanpa adanya kejelasan secara transparansi, tidak adanya sosialisasi dengan melakukan tawar-menawar atau mediasi kepada para mahasiswa dan mahasiswi, sedangkan kenaikkan biaya setiap ujian pasti terjadi, sehingga keputusannya terkesan sepihak memunculkan kecurigaan spekulasi tuduhan bermacam-macam
mahasiswa dan mahasiswi tanpa adanya kesadaran terhadap pergerakan untuk mengkritisi kebijakan yang mungkin dapat di nilai merugikan, maka izinkan tulisan ini mengejek serta mempertanyakan untuk apa gelar dan banyak baca buku atau berorganisasi
Sedangkan kebijakan dari Rektor dkk tidak dapat di sanggah oleh mahasiswa dan mahasiswi, ini bukan persoalan remeh-temeh melainkan untuk kemaslahatan bersama demi kepentingan civitas akademik agar tidak terkesan milik Rektor dkk
Salam integritas urusan akal sehat













