Penulis: Atiqurrahman
Tubuhnya agak kecil dan tak terlalu tinggi, tetapi gerakannya cukup gesit dan wawasan pengetahuannya sangat luas. Sebab sejak muda sudah terlibat dalam berbagai organisasi.
Ia adalah Mas Kaisar Abu Hanifah, pemuda desa di salah satu Kabupaten Probolinggo yang kini berhasil terpilih sebagai anggota legislatif di Senayan.
Sebagian besar aktivis di Yogyakarta, terutama kalangan PMII pasti tahu sosok Mas Kaisar. Ia dikenal sebagai pengayom bagi para aktivis PMII. Bahkan ia seringkali diminta untuk mengisi materi oleh aktivis PMII mulai dari tingkat Rayon hingga Cabang.
Sejak mahasiswa, ia memang telah mengabdikan dirinya untuk membesarkan dan memajukan organisasi PMII. Baginya, PMII adalah segalanya. Dan Puncak karir intelektual Mas Kaisar ialah ketika dirinya menjadi Presiden Mahasiswa UIN Yogyakarta, tahun 2005.
Sebagai Presiden Mahasiwa ia melakukan gebrakan dengan memprakarsai bersatunya seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Indonesia. Kemudian, lahirlah BEM Nusantara di Yogyakarta tahun 2005 yang terdiri dari berbagai kampus di Indonesia.
Dan BEM Nusantara ini hingga sekarang masih tetap eksis dan aktif dalam mengawal isu-isu nasional terutama yang berkaitan dengan sektor pendidikan dan kehidupan kampus.
Bagi Mas Kaisar, pembentukan BEM ini sebagai corong suara kritisisme mahasiswa di tingkat nasional, agar aliansi persatuan gerakan mahasiswa tetap solid dan kokoh, sehingga setiap agenda, cita-cita dan harapan gerakan mahasiswa bisa tercapai.
Selepas keluar dari dunia kampus, Mas Kaisar berlayar dalam dunia politik. Ia memilih PKB sebagai “perahu” dalam mengarungi lautan politik.
Mula-mula ia berproses di Garda Bangsa selama enam tahun. Salah satu organisasi sayap kaderisasi kepemudaan PKB. Ia telah menimba banyak ilmu politik dari senior-seniornya. Ia belajar dari Cak Imin, Faisol Reza, M. Hanif Dhakiri, Marwan Jakfar dan lain sebagainya.
Bahkan Mas Kaisar memahami betul bagaimana kerja-kerja politik seorang anggota legislatif di Senayan. Sebab, ia pernah menjadi staf khususnya mas Faisol Reza; ketua komisi VI dan mantan aktivis PRD sekaligus korban penculikan 1998.
Oleh karena itu, dengan pengetahuan dan pengalaman politik yang matang, Mas Kaisar berani mencalonkan diri sebagai anggota legislatif nasional pada pemilihan legislatif tahun 2024 dari daerah pemilihan Yogyakarta.
Ketika kampanye, ia terjun langsung ke masyarakat, untuk menjaring aspirasi dan harapan, serta mendengarkan keluh-kesahnya.
Bahkan dihadapan konstituennya ia berjanji akan mengalokasikan dana reses sepenuhnya untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.
Dan kerja-kerja politiknya itu telah menuai hasil, ia terpilih sebagai anggota legislatif nasional (DPR RI) 2024-2029 dengan perolehan suara tertinggi keempat yakni 109.955. Kini, ia sedang menyiapkan diri untuk berlayar menuju Senayan bersama 67 kader PKB lainnya.
Menariknya adalah, sebelum waktu pelantikan itu tiba, Mas Kaisar telah menyalurkan beasiswa pendidikan berupa bantuan “Program Indonesia Pintar (PIP)” di salah satu desa di Gunungkidul.
Program ini disalurkan kepada siswa-siswi sebanyak 350 orang untuk tahap pertama, karena Mas Kaisar telah mengajukan quota 2.500 PIP kepada pemerintah.
Menurut Mas Kaisar, langkah tersebut merupakan bagian dari tanggungjawabnya sebagai legislator untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya. Ia layaknya juru bicara terkait segala kebutuhan dan kepentingan konstituennya.
Saya percaya, Mas Kaisar bukan tipikal politisi kacang lupa kulitnya. Ia pasti menunaikan janji-janji politiknya kepada konstituennya. Karena ia adalah seorang santri lulusan pesantren Zainul Hasan Genggong.
Sebagai santri, ia tahu bahwa janji itu sebuah amanah yang harus laksanakan. Dan, lagi pula, Cak Imin sudah menitipkan “mandat” perjuangan kepadanya, bahwa legislator PKB harus fokus pada agenda-agenda kerakyatan dan demokratisasi. Sebagai wujud nyata PKB bagian dari solusi bangsa hari ini.
Selamat dan sukses Mas Kaisar.













