Oleh; Maulana Sholehodin
Saya salah satu orang yang ngefans pada kemampuan Hermeneutika Rocky Gerung, kerapkali dia membodohi lawan debatnya. Tapi sayang yang dihadapi selama ini politisi dan pengamat bukan sesama ahli filsafat Hermeneutika. Bagi seorang Ahli hermeneuitik kemampuan retoris Rocky merupakan hal yang biasa biasa saja, sebenarnya tidak sedikit dosen dosen filsafat yang setara bahkan lebih dari itu, kelebihan Rocky hanya pada kengawurannya.
Hermeneutika adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna kata sebuah kalimat. Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani Hermeneun yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan.
Kata tersebut diambil dari nama Hermes, dewa Pengetahuan dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pemberi pemahaman kepada manusia terkait pesan yang disampaikan oleh para dewa-dewa di Olympus. Fungsi Hermes cukup penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi manusia.
Kemampuan logika hermeneutik hanya mengasah kemampuan kognitif / logika nalar. Seorang intelektual tidak cukup dengan itu tapi juga butuh dimensi etik dan estetik.
Etik atau tata susila adalah konsep nilai baik dan buruk yang didasarkan kepada tradisi kolektif. Sedang estetik adalah keindahan serta kebijaksanaan retoris dan tindakannya.
Kalimat “Jokowi dungu atau bodoh adalah adalah kegagalan intelektual”. Bukan sebuah kritikan akademik tetapi kalimat cacian yang menyerang kehormatan. Itu memenuhi unsur Pidana, kenapa Rocky Gerung berani melakukan itu?, karena Rocky tahu ini delik aduan dan Gerung tahu bahwa Jokowi yang Presiden tidak mungkin melaporkannya. Dia tahu betul Jokowi kental tradisi Jawanya “mikul dhuwor mendhem jeru”. Tetapi itu artinya gerung memanfaatkan kebaikan orang dan itu bukan keberanian tapi licik. Bila jokowi melaporkan saya pastikan gerung masuk.
Seperti saat berdialog dengan Mahfud MD, menhan ini menyatakan “anda kan hanya bisa menyalahkan tidak bisa memberi solusi”. Gerung menjawab “yang harus mencari solusi pemerintah, karena dia dibayar untuk itu”. Kalimat gerung seolah olah benar, tetapi sebenarnya salah. Bukankah seorang intelektual ketika menyatakan salah maka dia harus memberikan apa yang benar sebagai diferensiasi (pembanding). Karena sesuatu yang salah pasti ada yang benar sebagai bandingannya.
Di pesantren ada dua ilmu tentang Hermeneutika, pertama ilmu mantiq sebuah disiplin ilmu tentang logika, kedua Balagho tentang makna kata dan estetikanya. Salah satu tokoh nasional yang mumpuni di bidang ini KH. Hasyim Mujadi, kalimatnya selalu santun indah dan jelas. Salah satu qoutenya yang terkenal “salah faham itu tidak bahaya, yang bahaya itu bila Fahamnya yang salah”.













