SUARARAKYATINDO.COM – PROBOLINGGO – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sejak awal Juni 2025, mulai menimbulkan dampak serius. Sebanyak 13 kecamatan dilaporkan mengalami kekeringan parah, memicu krisis air bersih di sejumlah dusun, desa, hingga fasilitas pendidikan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif, menyebutkan bahwa kekeringan telah menyebar dari kawasan dataran tinggi, pesisir, hingga kepulauan. “Total ada 13 kecamatan terdampak, yaitu Bantaran, Banyuanyar, Kuripan, Leces, Lumbang, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, Gading, Wonomerto, Sukapura, Paiton, dan Sumberasih,” ujar Oemar, Kamis (7/8/2025).
Kecamatan Tegalsiwalan tercatat sebagai wilayah dengan desa terdampak terbanyak. Tujuh desa di kecamatan ini mengalami kekeringan serius, termasuk enam dusun yang dilaporkan kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai bentuk tanggap darurat, BPBD telah menyalurkan bantuan air bersih sejak bulan Juni dan distribusi masih berlangsung hingga awal Agustus. Volume air yang disalurkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa berdasarkan permintaan resmi dari pemerintah desa atau dusun.
“Kami memprioritaskan wilayah yang benar-benar kesulitan mengakses air bersih. Kecamatan Tiris menjadi salah satu yang paling sering mengajukan permintaan distribusi air,” tambah Oemar.
Kekeringan juga berdampak pada sektor pendidikan. Dua sekolah, yakni SMP Negeri 1 Sukapura dan SDN Kalikajar Wetan di Kecamatan Kraksaan, turut mengalami kekurangan air bersih dan telah menerima bantuan dari BPBD.
Distribusi dilakukan hampir setiap hari menggunakan armada tangki air yang disiagakan untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil dan sulit diakses.













