SUARARAKYATINDO.COM, Probolinggo – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Probolinggo Raya, Babul Arifandhie, menyatakan keprihatinannya atas rangkaian kerusuhan yang terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir. Ia mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri agar situasi tidak semakin meluas menjadi krisis sosial.
“Demokrasi tidak boleh mati. Menyampaikan aspirasi sudah diatur undang-undang. Namun mari sama-sama menahan diri agar penyampaian aspirasi tidak berujung anarkis,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Babul juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sejumlah demonstran dalam aksi unjuk rasa di beberapa wilayah. Ia berharap peristiwa serupa tidak terulang.
Menurutnya, khusus di wilayah Probolinggo Raya, dinamika penyampaian aspirasi dari mahasiswa, pekerja, maupun warga masih berlangsung kondusif tanpa mengganggu ketertiban umum. Meski begitu, ia menyoroti maraknya konten provokatif di media sosial yang dinilai berpotensi memicu kerusuhan.
“Ini bentuk provokasi digital yang tidak seharusnya dilakukan. Bahkan ada konten berlatar belakang Kiai Hasan Genggong dan menyebut nama Bupati Probolinggo sebagai legitimasi ajakan provokatif,” sesalnya.
Meski unggahan tersebut sudah dihapus, video terlanjur diunduh ulang dan tersebar secara manual. Babul menegaskan, ajakan anarkis di ruang digital tidak mencerminkan karakter masyarakat Probolinggo yang dikenal santun dan religius.
Ia mengajak seluruh pihak menjaga keamanan bersama, termasuk warganet agar tidak mudah tersulut provokasi. “Ruang digital sebaiknya dimanfaatkan untuk edukasi dan produktivitas, bukan untuk memecah belah bangsa,” tegasnya.
Babul menutup dengan ajakan agar setiap aspirasi disampaikan dengan kepala dingin. “Insya-Allah aspirasi masyarakat Probolinggo tetap tersalurkan secara kondusif tanpa harus mencederai sistem demokrasi di negara kita,” pungkasnya.













