SUARARAKYATINDO.COM – Yogyakarta, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Cabang PMII Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan bahwa demokrasi Indonesia tengah berada dalam kondisi darurat. Situasi politik, sosial-ekonomi, hingga keadilan gender dinilai semakin rapuh, sementara rakyat justru menghadapi beban hidup yang semakin berat.
Di Yogyakarta sendiri, problematika demokrasi dan sosial-ekonomi semakin terasa. Harga kebutuhan pokok melonjak, akses lapangan kerja semakin sempit, dan ruang aspirasi publik kian menyempit.
Sementara di tingkat nasional, pemerintah dan parlemen dianggap lebih berpihak pada kepentingan elit daripada kepentingan rakyat banyak. Praktik korupsi, lemahnya penegakan hukum, serta kebijakan yang tidak pro-rakyat memperlihatkan gejala kemunduran demokrasi.
Ketua KOPRI PC PMII DIY, Safira Adha Fadlina, S.Sos., menegaskan bahwa perempuan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pelengkap dalam perjuangan, tetapi harus hadir sebagai kekuatan utama dalam menjaga demokrasi.
“Krisis demokrasi tidak boleh dibayar dengan keselamatan rakyat, terlebih perempuan. Perempuan adalah garda depan yang memperkuat barisan rakyat menghadapi krisis kebangsaan hari ini,” tegasnya.
Dalam pernyataan sikapnya, KOPRI PC PMII DIY mengusung sepuluh poin penting sebagai langkah penyelamatan demokrasi, antara lain:
1. Komitmen aksi damai berbasis kepentingan rakyat.
2. Mendesak DPR membuka ruang dialog substantif dan menghentikan politik formalitas.
3. Reformasi partai politik dan pengawasan eksekutif.
4. Rencana reformasi perpajakan yang lebih adil.
5. Penegakan UU Pengamanan Aset Kontur dan pemberantasan korupsi.
6. Revisi regulasi kepolisian demi transparansi dan akuntabilitas.
7. Penghentian proyek sipil oleh TNI.
8. Revisi UU Komnas HAM agar lebih independen.
9. Reformasi ekonomi dan ketenagakerjaan berbasis keadilan sosial.
10. Kolaborasi gerakan masyarakat untuk menjaga netralitas pemilu.
Safira menambahkan bahwa gerakan perempuan tidak hanya sebatas mengisi ruang formal, melainkan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Menurutnya, jika demokrasi dibiarkan terus melemah, maka rakyat khususnya perempuan akan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Dengan sikap ini, KOPRI PC PMII DIY berharap Yogyakarta tetap menjadi barometer gerakan mahasiswa yang kritis dan progresif, sekaligus memberi teladan bagi daerah lain untuk memperjuangkan demokrasi yang lebih substantif dan berpihak pada rakyat.













