Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Menko Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menegaskan bahwa kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan mematikan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Menurutnya, kedua lembaga ini justru akan saling melengkapi dalam membangun ekonomi desa.
Pernyataan ini disampaikan Menko Zulhas menanggapi kekhawatiran sejumlah kepala desa yang merasa telah berjuang keras membesarkan BUMDes di wilayahnya.
“Kopdes ini nantinya semacam holding. Bisa berasal dari koperasi yang sudah ada, koperasi baru, atau gabungan keduanya. Tidak akan mengganggu BUMDes. Keduanya bisa berkembang bersama,” terang Zulhas dalam pernyataan di Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Ia menambahkan, masih dibahas siapa yang akan menjadi lembaga induk antara Kopdes dan BUMDes. Petunjuk pelaksana (juklak) sebagai dasar operasional juga masih dalam proses penyusunan.
“Mereka yang paling tahu, apakah BUMDes menjadi bagian dari Kopdes atau sebaliknya. Silakan diputuskan. Tapi yang jelas, keduanya saling melengkapi,” imbuhnya.
Senada dengan Zulhas, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa keberadaan Kopdes Merah Putih justru akan memperkuat BUMDes yang sudah eksis dan berkembang.
“Tidak perlu khawatir Pak Kades. BUMDes yang sudah maju tidak akan dihapus. Bahkan akan diperkuat. Ada yang pendapatannya Rp24 miliar, ada Rp17 miliar. Itu semua tetap dijaga,” kata Yandri di Jakarta, Senin (14/4/2025).
Yandri juga memastikan, pemerintah akan mengatur dengan jelas hubungan kelembagaan antara Kopdes dan BUMDes agar sinergi keduanya dapat optimal.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut pemerintah akan menetapkan kegiatan usaha wajib bagi Kopdes, demi memastikan koperasi desa berjalan baik.
“Misalnya jadi penyalur pupuk subsidi, mitra Bulog serap gabah Rp6.500/kg, atau pangkalan gas LPG. Ini semua untuk memperkuat peran Kopdes di desa,” jelas Sudaryono.
Ia juga menambahkan, Kopdes bisa diarahkan sebagai penyalur minyak goreng dan bahan pokok dengan harga khusus, termasuk menjadi mitra dalam distribusi obat-obatan terjangkau.













