Menu

Mode Gelap
Pemkab Probolinggo dan MUI Bahas Fatwa Penagihan Kredit Bermasalah, Tegaskan Larangan Penarikan Kendaraan di Jalan Bus Rombongan Jemaah Haji Probolinggo Alami Kecelakaan di Madinah Advancements in Treasured Metals IRAs: A Comprehensive Guide To Investing Correctly The most Effective Places To Buy Gold Online: A Complete Guide Investing in Gold: The Benefits of Holding Physical Gold In Your IRA Best Gold IRA Investments For Retirement: A Complete Information

Kolom

NU: Upaya Meretas Jalan Kemerdekaan

badge-check


					Ilustrasi NU: Upaya Meretas Jalan Kemerdekaan. Perbesar

Ilustrasi NU: Upaya Meretas Jalan Kemerdekaan.

Penulis: Atiqurrahman

Tak bisa disangkal, bahwa NU ikut andil dalam upaya meretas jalan kemerdekaan. Sejak berdirinya, 1926, semangat persatuan dan api perlawanan telah dikobarkan. Bahwa para ulama, kiyai, dan santri wajib punya jiwa juang yang tinggi.

Kiyai Hasyim Asy’ari dalam pidatonya, –kemudian dikenal sebagai Qonun Asasi–salah satu poinnya menganjurkan tentang rasa persatuan dan persaudaraan antar anak bangsa. Tanpa persatuan dan persaudaraan yang kuat, mustahil kemerdekaan bisa diraih.

Dua tahun setelahnya, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda Nusantara berkongres, dan mengikrarkan satu sumpah yang suci, yakni sumpah satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Pada pertemuan ini pula, syair dan melodi lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ gubahan WR. Soepratman dikumandangkan.

Para pemuda itu telah melepaskan segenap identitasnya, asal-asulnya, dan kepentingannya, demi terwujudnya ikatan persatuan sekaligus membangun imajinasi politik kebangsaan bersama.

Selain itu, Kiyai Wahab Hasbullah berkali-kali menegaskan, dalam setiap pertemuan, bahwa tujuan berdirinya NU adalah meraih kemerdekaan. Tanpa sebuah kemerdekaan, nilai-nilai islam tidak pernah bisa ditegakkan.

Oleh karenanya, sejak 1926 hingga 1945, posisi dan kiprah perjuangan NU sangat jelas; ikut serta mengantarkan Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Di samping itu, NU senantiasa berupaya memperkuat dan memperluas basis massa dan cakupan organisasinya ke seluruh Nusantara.

Pada Muktamar ke-14 di Magelang, Jawa Tengah, 1939, NU mengeluarkan keputusan tentang sebuah konsepsi masyarakat yang ideal. NU menyebutya sebagai ‘Mabadi Khairul Ummah’, –sebuah tatanan politik masyarakat yang menjungjung tinggi prinsip kesetaraan, kejujuran, keadilan, keadaban, dan saling gotong royong.

Konsepsi masyarakat tersebut, adalah semacam kritik atau antitesa dari para ulama dan kiyai NU terhadap sistem kolonial Belanda, –yang selalu meminggirkan, menindas, dan menginjak-injak martabat dan harga diri kaum pribumi.

Mabadi Khairul Ummah adalah tawaran konkret NU untuk sebuah kehidupan berbangsa di masa depan. Hal ini, jelas memiliki suatu irisan kesamaan dengan semangat dan cita-cita dari kalangan nasionalis atau kalangan islam lainnya.

Dengan kata lain, Mabadi Khairul Ummah merupakan bentuk lain dari proyeksi bersama atau mimpi besar tentang kemerdekaan Indonesia.

Makin Radikal.

Perlawanan NU tak hanya berhenti disitu. Upaya meretas jalan kemerdekaan terus dilakukan dan diperjuangkan. NU makin meradikalisasi gerakannya. Ia menolak tunduk pada Fasisme Jepang.

Kiyai Hasyim Asy’ari menolak secara tegas melakukan ‘Seikerei’ terhadap Jepang. Sebab, ia bertentangan dengan keyakinannya. Ia rela merengkuh di penjara selama empat bulan karena membela dan mempertahankan keyakinannya itu.

Akibat desakan dan protes para kiyai dan santri, akhirnya Kiyai Hasyim dibebaskan dari penjara. Pada 1944, Kiyai Hasyim membentuk Laskar Hizbullah, sebuah pasukan milisi sipil santri untuk membela tanah air.

Komitmen perjuangan NU tidak pernah pudar dan pupus, kobaran api perlawanannya terus hidup dan menyala. Meskipun Indonesia sebagai negara berdaulat dan merdeka sudah diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta.

Namun, Belanda melalui NICA tetap ingin kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Soekarno sebagai Presiden, segera mengirim utusan menemui Kiyai Hasyim Asy’ari. Ia meminta saran tentang bagaimana hukumnya membela tanah air?.

Kiyai Hasyim pun menjawab secara tegas, bahwa membela dan mempertahankan tanah air adalah wajib hukumnya (fardhu ain) bagi tiap-tiap orang.

Jawaban Kiyai Hasyim itu lalu dijadikan keputusan organisasi oleh PBNU pada 22 Oktober 1945, dan kita mengenalnya sebagai Resolusi Jihad. Keputusan itu disebarluaskan seantero negeri melalui radio dan koran-koran.

Sejak itulah, pertempuran demi pertempuran terjadi, terutama di Surabaya, mulai dari tanggal 27 Oktober-10 November 1945. Pekikan takbir dari Bung Tomo menjadi api penyemangat bagi rakyat Surabaya dalam melawan tentara Belanda, Inggris, dan Sekutu.

Hingga akhirnya, kemenangan bisa diraih, meski harus menelan ratusan atau ribuan korban jiwa. Dan rakyat Indonesia masih tetap berdiri dengan kepala yang tegak.

“Lebih baik kita mati berkalang tanah daripada kehormatan dan kemerdekaan RepubIik Indonesia diinjak-injak”, ucap Soemarsono, Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) kepada ribuan laskarnya.

Dampak peristiwa itu, secara perlahan, membuat negara-negara lain mulai mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Meskipun tahun-tahun setelahnya, upaya diplomasi terus dilakukan oleh para pendiri bangsa, dan akhirnya Indonesia bisa berdaulat dan merdeka seutuhnya.

NU Mencintai Indonesia.

Sampai kapan pun, NU itu selalu mencintai dan setia pada bangsa ini. Sebab, ia iahir dari pertempuran darah, air mata, dan nyawa rakyat Indonesia. Menjaga dan mempertahankan Indonesia, kata Kiyai Hasyim, adalah bagian dari sebuah keimanan.

Karena itu, slogan NKRI harga mati bagi warga NU, bukanlah pepesan kosong. Ia semacam azimat yang senantiasa dilantunkan dalam setiap pertemuan dan forum-forum kaderisasi NU.

Kata Kiyai Said Aqil Sirodj, jika Indonesia ini ibarat kapal, maka NU adalah jangkarnya. Sebagaimana jangkar, ia berfungsi sebagai alat penambat atau pertahanan, agar kapal tetap berdiri kokoh, tidak oleng dan hanyut oleh terpaan badai.

Namun demikian, NU tidak peduli siapa pun yang menjadi nahkoda kapal, karena ia bisa diganti selama lima tahun sekali. NU hanya peduli dan setia pada kapal bernama Indonesia.

Oleh sebab itu, saya harap, NU selalu senantiasa memberikan catatan kritis dan korektif terhadap setiap nahkoda. Agar arah perjalanannya sesuai dengan navigasi yang disepakati bersama: konstitusi.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

7 April 2026 - 19:01 WIB

Kritik dalam Demokrasi: Antara Hak Politik dan Tuduhan Makar

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

1 Oktober 2025 - 20:55 WIB

Jangan Selalu Norma, Mari Pandang Coming Out LGBTQ+ Dari Kacamata Psikologi

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

1 Oktober 2025 - 12:35 WIB

Kisah Kelam Sejarah G30S PKI, Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Menjaga Ideologi Pancasila

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

24 September 2025 - 12:20 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

30 Agustus 2025 - 19:38 WIB

Sajak Mahendra Utama, Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Trending di Kolom
error: