SUARARAKYATINDO.COM – Probolinggo, Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-277, perhelatan lomba kerapan sapi resmi berakhir di Lapangan Kerapan Sapi Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo pada Minggu, (04/06) sore.
Perlombaan kerapan sapi Bupati Probolinggo Cup tahun 2023 tersebut yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, di Lapangan Kerapan Sapi Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo ini ditutup oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto.
Pada penutupan itu ditandai dengan perlombaan 4 (empat) babak final Kategori Besar dan Kecil untuk Kelas A dan B serta penyerahan hadiah kepada masing-masing pemenang.
Tampak hadir dalam penutupan tersebut, Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, perwakilan Polres Probolinggo serta Forkopimka Bantaran.
Sebelumnya, lomba kerapan sapi yang diikuti sebanyak 48 pasang sapi untuk kelas besar dan 72 pasang sapi untuk kelas kecil.
Peserta lomba tersebut yang berasal dari dalam dan luar Kabupaten Probolinggo, seperti Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember dan Pulau Madura.
Pada kesempatannya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto mengatakan bahwa budaya kerapan sapi ini berasal dari Pulau Madura, dimana saat itu banyak sawah-sawah tandus di daerah Sapudi.
“Kemudian Pangeran-Pangeran Katandur karena melihat sawahnya kering mengajak membuat kerokan dua biji bambu yang ditarik oleh sapi. Ternyata, kemudian usai panen dirayakan dengan sapinya diadu. Akhirnya dalam perjalanannya menjadi tradisi dan budaya Madura dan pantura termasuk Probolinggo,” terang Sekda Ugas.
Disamping itu, Sekda Ugas menerangkan bahwa kerapan sapi ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu di Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, kerapan sapi ini memang menjadi budaya yang harus dilestarikan.
Namun demikian, karena budaya kerapan sapi ini ada unsur pertarungan dan perlombaan, tetap tidak bisa sapi dan jokinya tidak kerja sama dan tidak latihan untuk menghadirkan sapi dengan lari yang maksimal.
“Di satu sisi, kalau sudah perlombaan pasti ada yang menang dan kalah. Minta tolong jangan sampai tukaran. Kalau disini saat proses kerapan sapi tidak ada masalah dan sukses, maka tahun depan akan diadakan lagi lomba kerapan sapi,” ungkapnya.
Perlombaan kerapan sapi ini, lanjut Ugas, merupakan ajang silaturahim antar pecinta sapi.
“Semoga kegiatan lomba kerapan sapi ini bisa semakin mempererat silaturahim diantara pecinta sapi di Kabupaten Probolinggo maupun luar Kabupaten Probolinggo,” harapnya.
Diketahui, untuk pertandingan final pada Kategori Besar Kelas A juara 1 yang, diraih pasangan sapi Gagak Rimang I milik Tohir dari Bangkalan, juara 2 diraih pasangan sapi Darah Dingin milik Adem dari Kramat Agung dan juara 3 diraih pasangan sapi Gagak Rimang Ceria milik Imam Syafi’i dari Probolinggo.
Pada Kategori Besar Kelas B, juara 1 diraih pasangan sapi Bintang Korea milik Yogik dari Pakistaji Probolinggo, juara 2 diraih pasangan sapi Obama I milik Asrap dari Kramat Agung dan juara 3 diraih pasangan sapi Lanyala milik Kepala Desa Roto.
Selain itu, untuk Kategori Kecil Kelas A juara 1 diraih pasangan sapi Mafia Gelap milik Yek Helap Probolinggo, juara 2 diraih pasangan sapi Anak Santri milik Faris Nada Probolinggo dan juara 3 diraih pasangan sapi Putra Jagal milik H Yudi dari Kropak.
Kategori Kecil Kelas B juara 1 diraih pasangan sapi milik Raden Firsa milik Kepala Desa Sumberduren, juara 2 diraih pasangan sapi Bandar Judi milik Hatip dari Penawungan Lumajang dan juara 3 diraih pasangan sapi Atol Tol milik Yani dari Pabean Dringu.
Masing-masing juara meraih hadiah berupa tropy, sertifikat dan uang pembinaan. Khusus untuk juara 1 Kategori Besar Kelas A pasangan sapi Gagak Rimang I Milik H. M. Tohir dari Bangkalan juga menerima hadiah tambahan berupa Piala Bergilir Bupati Probolinggo.













